Menjadi penyelam itu sangatlah menyenangkan. Ketika  memutuskan untuk mengambil lisensi sebagai seorang penyelam,  tingkat kesadaran menjaga lingkunganpun menjadi bertambah. Scuba diving adalah olahraga yang menarik dan menyenangkan. Ketenangan bawah laut seperti terapi yang dapat menyembuhkan. Dan memberi pelajaran dalam sisi lain kehidupan. Seiring waktu mampu  menjadi philosopi kehidupan.

Seringkali setelah menyelam saya menikmati poto-poto wajah bahagia diri sendiri, ketika sudah naik kembali ke kapal atau perjalanan kepantai setelah melakukan penyelaman, lalu berbagi cerita dan pengalaman tentang mahkluk laut  dan arus bawah laut, wajah-wajah kami yang  bahagia dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Wajah lelah namun sangat  bahagia. Saya menyebutnya wajah “sea gasm”.

Dibawah laut kami hanya sibuk menikmati ciptaan Tuhan dan sesekali mengamati SPG (Submersible Pressure Gauge). Dan melakukan komunikasi dengan tanda-tanda komunikasi yang hanya kami sesama penyelam yang mengerti. Meninggalkan mobile phone dan tidak harus menjawab email. Memasuki dunia yang tenang, dan hanya mendengar suara napas sendiri.  Seiring  bertambahnya divelog kita akan merasakan sensasi melayang dibawah air. Sama seperti ikan yang menikmati setiap gerakannya.

Scuba diving bisa dilakukan oleh siapa saja dari mulai anak 8 tahun hingga orang tua. Tetapi, tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kita bisa aman dalam melakukannya. Pada dasarnya, olahraga ini risikonya cukup tinggi, namun jika melakukannya dengan prosedur yang benar, petualangan di bawah laut akan sangat menyenangkan, aman, sulit dilupakan, dan bahkan bisa menghilangkan stres dari penatnya pekerjaan. Scuba diving  bukan  olah raga yang berkompetisi, kita hanya diajak menikmati kedalaman laut tanpa adanya persaingan. Dan sebagai pekerja kantor seperti saya yang sering dihinggapi rasa kebosanan dan stress, menyelam adalah salah satu penyeimbang hidup.

Scuba diving olah raga yang bisa dinikmati sampai tua, yang penting kesehatan memungkinkan. Anak usia 8 tahun sudah bisa melakukan program latihan dengan pengamanan seorang  dive guide. Usia 10 tahun bahkan sudah bisa mendapatkan sertifikat Junior Open Water Divers, dan mulai usia 15 tahun bisa mendapatkan Open Water Divers, serta tidak ada batasan usia untuk diving. Akhirnya saya memilih scuba diving  karena berharap saya dapat menikmati dunia bawah laut dengan anak cucu saya kelak...

 

Pulau Buru merupakan salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku. Dengan luas 8.473,2 km², dan panjang garis pantai 427,2 km. Pulau Buru menempati urutan ketiga setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara dan dan Pulau Seram di Maluku Tengah. Secara umum Pulau Buru berupa perbukitan dan pegunungan. Puncak tertinggi mencapai 2.736 m. Pulau ini terkenal sebagai pulau pengasingan bagi para tahanan politik pada zaman pemerintahan Orde Baru.

Pulau Buru menjadi destinasi perjalanan spiritual oktober  saya tahun ini. Tepat pada tanggal kelahiran saya, ada acara Festival Pesona Bupolo 2016. Saya  merasa sepertinya  Pulau Buru merayakan kelahiran saya. Dari Jakarta  memilih penerbangan paling malam dan sampai di Pattimura International Airport, ketika matahari terbit membuat moment ultah  ke-17 (hahahaha)  tahun  ini begitu sempurna. Tiba di Pattimura International Airport saya sudah dijemput oleh panitia Festival Bupolo 2016. Perjalanan ke Pulau Buru dilanjutkan dengan menggunakan kapal  Fery yang cukup besar dan nyaman, dengan lama perjalanan sekitar 6 jam. Menunggu kapal yang berangkat pukul 16.00. Kami berisirahat di kota Ambon sambil  mengexplore kota tersebut.

Pulau Buru sangat tenang dan sejuk menyambut kedatangan kami hari itu,  alamnya yang indah, tanahnya yang subur, pantainya cantik, dan bawah lautnya sangat menarik. Di pulau yang dirimbuni pohon-pohon minyak kayu putih itu pula, seorang pujangga, sastrawan favorite saya,  Pramoedya Ananta Toer dibuang karena ketajaman karya-karya sastranya. Kini Pulau itu telah menjadi kabupaten di Propinsi Maluku.

Melihat secara langsung keindahan terumbu karang dan ikan-ikan yang penuh warna di kedalaman laut menjadi suatu pengalaman tersendiri bagi saya selama beberapa kali melakukan penyelaman di Pulau Buru. Yang setiap penyelaman memiliki pengalamannya masing - masing. Tanggal 9 oktober 2016 tepat Pukul 9.00 WIT  bersama DODOKU DIVE CENTER kami memulai penyelaman pertama di spot Jikumerasa -1. Dengan waktu penyelaman rata-rata selama 52 menit. Terumbu karang yang padat, sehat, dan berwana-warni. Ikan pelagis memang jarang ditemukan tapi berbagai ikan cantik, yang saya tidak hapal satu persatu namanya membuat penyelaman hari pertama cukup berkesan. Rasanya tabung nitrogen yang berisi 300 bar terasa terlalu sedikit. Waktu penyelaman yang kurang lebih satu jam rasanya terlalu cepat.

Hari kedua kami melakukan penyelaman di daerah Waprea. Dive 1 Tanjung Laibasa, dan dive ke 2 Tanjung Batunuhan. Waprea menjadi sangat sempurna karena setelah menyelam ada air terjun yang sangat menyegarkan untuk membersihkan badan setelah menyelam. Ketika surface interval, kami yang saat itu beristirahat menunggu penyelaman ke 2, mulai berinteraksi dengan anak-anak dan para warga masyarakat setempat. Mereka sudah menyadari arti pentingnya menjaga lingkungan. Bahkan mereka memiliki kolam untuk membantu para penyu bertelur dan melepaskan tukik bila dianggap sudah sanggup untuk bertahan dilaut.

Titik-titik penyelaman di Pulau Buru masih dalam proses eksplorasi secara berkelanjutan oleh teman-teman penyelam DODOKU DIVE CENTER. Mereka adalah komunitas generasi  muda yang penuh semangat  didunia penyelaman, multi talenta dibidang underwater photography,  memiliki semangat dan energi untuk memajukan dunia bawah laut negri ini. Saya sangat bersyukur bertemu dengan mereka dalam Festival Bupolo 2016 ini.

Semoga pemerintah daerah mendukung program explorasi wisata bawah laut Pulau Buru. Karena Pulau Buru memiliki bukit Tatanggo yang indah, Danau Rana yang cantik, serta  garis pantai yang membentang panjang,  juga lahan yang luar biasa subur.

Pulau Buru adalah salah satu dari sekian banyaknya pulau di Indonesia yang perlu kita kumandangkan keindahannya. Karena memiliki daratan  dan  potensi kelautan, terlebih lagi secara khusus adalah pulau yang sebenarnya saksi dari perjalanan sejarah politik tanah air tercinta.

Jika kita berpikir secara umum pemanfaatan kekayaan laut Indonesia secara maksimal dapat meningkatkan pendapatan para nelayan dan meningkatkan devisa negara. Keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini seharusnya memacu kita untuk lebih berpikir kritis. Ditambah lagi alat-alat modern ramah lingkungan dapat menjadi salah-satu pilihan alternatif nelayan untuk mencari nafkah tanpa merusak ekosistem bawah laut, seperti curahan hati para nelayan di Waprea. Sehingga kita dapat  mewujudkan lingkungan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil yang bersih dan lestari.

Pulau Buru memang terlalu sempurna... mulai dari bukit, danau, pantai berpasir putih dan lembut, dunia bawah lautnya yang cantik. Membuat perjalanan spiritual oktober saya tahun ini menjadi kenangan terindah yang takkan terlupakan. Jaaadiiiiii tunggu apalagi...AYO MAIN KE BURU!!!

Our Team: Ko Roy, Ariawan, Neo, Dedi, Romi, Fandi, Fani, Hasna, Ella, Sisca, Ahmad, Ichan/Keci, Aldi, Sadam, Fuad, Andex, Demas, Ongen, Yadin.

 

Read more...