Saya telah belajar banyak dari spasi. Pernah mengalami dimana   hari - hari yang harus dibaca tanpa spasi, melelahkan untuk sekedar dibaca.  Bahwa hadirnya spasi itu kini  telah mencipta begitu banyak makna. Spasi... Sesuatu yang tidak pernah saya sadari menjadi hal yang sepenting ini. Terengah-engah seperti habis berlari, padahal saya hanya disini. Saya kehabisan nafas seperti mau mati, padahal sehat dari ujung kepala sampai kaki.

Sampai akhirnya saya sadari untuk  memberi spasi dalam hidup ini. Mungkin juga  ada rindu dalam spasi. Dan spasi memang harus sesuai layaknya tanda baca. Tidak membuatnya lagi indah untuk dibaca ketika spasi itu terlalu panjang. Karena spasi yang panjang  menciptakan rindu yang berubah menjadi hampa. Hingga bila kita mau jujur melihat ke balik jiwa, ada luka di sana. Yang tak pernah butuh pemulihan apa-apa kecuali berdamai.

Spasi itu akhir akhir ini adalah percakapan sore hari bersama sahabat di atap rumah.  Bercerita panjang lebar tentang hari-hari yang kami lalui dengan orang- orang disekitar kami. Mengukir senja di atap rumah dengan tawa yang pecah. Bahkan sampai  menanti bulan yang terkadang terlalu percaya diri dan terkadang malu -malu bersembunyi. Saya dan sahabat-sahabat saya punya banyak cadangan spasi saat ini. Semoga spasi tetap ada diantara sibuknya hari-hari kami. Kadang spasi dalam hidup ini  hilang diantara luapan rasa jatuh cinta yang datang menggebu-gebu... Semoga tidak hanya saya yang tersadar, bahwa jatuh cinta tanpa spasi itu juga membuat jiwa beku. 

Apa yang semalam turun bersama hujan, mungkin hanya waktu yang benar-benar tahu. Tapi bukankah waktu ada di pihak kita? Jadi tak ada lagi yang perlu kita takutkan kecuali Tuhan. Tidak badai, tidak juga gempa. Terlebih hanya hujan dan angin biasa. Menyetubuhi kenangan, memeluk angan-angan, menciumi hal-hal yang sudah sulit menjadi kenyataan. Tapi bukankah kadang disanalah kita menemukan sebenar-benarnya kebahagiaan. Tidak ada yang perlu ditakutkan, karena semua berjalan sesuai apa yang Tuhan inginkan.