Wanita mandiri itu bisa tetap lembut dan cantik. Semua wanita pasti ingin cantik, tapi belum tentu semua ingin jadi mandiri. Dan seringkali kemandirian wanita membuatnya memiliki karakter   yang keras. Apakah kemandirian membuat sisi kelembutan wanita menjadi hilang bersama kemandiriannya? Mandiri, lembut dan cantik adalah hal yang terpisah. Tetapi bukan berarti wanita tidak mampu memiliki ketiga hal itu. Menjadi mandiri , lembut dan cantik sekaligus memang membutuhkan usaha, kerendahan hati dan keinginan kuat.

1. Mandiri Berarti Punya Kendali Terhadap Hidup ini.

Disadari atau tidak, kita masih hidup dalam masyarakat yang menempatkan wanita sebagai pihak yang dianggap layak untuk lebih banyak mengalah saat sudah memutuskan untuk hidup berumah tangga. Lebih banyak wanita yang memilih keluar dari pekerjaan selepas menikah dibanding lelaki. Kemandirian bukan soal menghasilkan uang sendiri dan tidak lagi minta suami. Mandiri adalah ketika kita punya kuasa untuk menentukan apa yang akan terjadi atas hidup ini. Ketika punya keyakinan kuat untuk jadi mandiri, kita tidak lagi harus mengikuti aturan tak tertulis yang tidak sesuai dengan kata hati, seberapa kuatpun aturan itu mengakar di masyarakat. Hidup kita ditentukan oleh keputusan diri sendiri.

2. Tidak Bisa Selamanya Mengandalkan Orang Lain.

Mau sampai kapan nggak bisa nyetir kendaraan dan harus merepotkan orang untuk mengantarmu kemana-mana? Nggak bosen harus nunggu jemputan padahal kamu sudah terburu-buru harus berpindah kekegiatan lain? Jadi wanita yang mandiri akan membuat kita tidak lagi bergantung pada orang lain untuk menopang aktivitas. Lagipula kita tidak pernah tahukan kapan ada orang yang akan sedia untuk membantu dan kapan harus berjuang sendiri? Dengan menjadi mandiri kita akan lebih siap menghadapi berbagai situasi yang muncul.

3. Kemandirian Memberimu Perspektif yang Lebih Terang Soal Prioritas yang Harus dikejar.

Menjadi mandiri akan membuat kita bisa lebih fokus pada prioritas yang harus dikejar. Rintangan dalam mencapainya pasti ada, tapi sudah siap menerimanya. Dengan jadi pribadi yang mandiri tidak akan lagi ditakutkan oleh hal-hal remeh. Menjadi wanita yang tegas dalam mengambil keputusan dan berani menanggung resiko dari pilihan yang diambil. Kemandirian akan membuat kita punya sikap dalam berbagai hal. Tidak lagi menjadi wanita yang hanya “Iya-iya” kalau diajak berdiskusi.

4. Gaya Hidup Saat Ini Tidak Memungkinkan Perempuan Untuk Bergantung Secara Finansial (Kecuali Semua Cowok Indonesia Sekaya Keluarga Cendana).

Gaya hidup manusia urban dewasa ini memang tidak lagi memungkinkan pemasukan datang dari pihak lelaki saja. Cicilan KPR dan biaya sekolah anak makin mahal. Sudah bukan jamannya wanita cuma menunggu. Jadi harus kerja nih? Gak bisa mendampingi anak diusia emas pertumbuhannya dong? Semua mengenai pilihan hidup.

5. Jadi Mandiri Bukan Berarti Tidak Butuh Lelaki.

Menjadi wanita yang mandiri bukan berarti tidak lagi memasak dan mengurus anak. Memilih menjadi mandiri tidak membuat wanita  jadi makhluk berdada rata yang tidak bisa menyusui anak diusia  2 tahun pertama kehidupannya. Mandiri adalah tentang ketegasan, keberpihakan dan keberanian dalam menentukan apa yang selayaknya terjadi dalam hidup ini. Dan kelembutan adalah keputusan untuk tetap rendah hati sebagai wanita mandiri. Sementara kecantikan adalah hadiah paling istimewa yang Tuhan berikan untuk setiap wanita. Menurut saya semua wanita  cantik adanya. Karena wanita adalah makhluk  tercantik yang Tuhan ciptakan.

 

 

 

 

 

 

Kenapa rasa kentang...

Karena kerinduan kental untuk bernostalgia mendengarkan lebih banyak lagu-lagu old school yang menjadi soundtrack hidup saya terasa menggantung. “Kentang” saya menyebutnya alias kena tanggung, Hehehe... Pada konser Bon Jovi kali ini, sebanyak 40.000 tiket sold out alias terjual habis sebelum acara. Tidak bisa dipungkiri, penggemar Bon Jovi masih sangat banyak disini. Kebanyakan dari mereka adalah generasi tahun 90an yang menjalani masa muda bersama lagu-lagu Bon Jovi. Termasuk saya pastinya. Saat ini generasi itu  mungkin sudah menjadi pekerja kantoran, pengusaha muda dan  lain lain di umur yang sudah mapan. Yang tentunya dengan tingkat ekonomi yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan masa remaja dulu. Harga tiket VVIP yang dibandrol Rp 3.500.000,- dan Festival Rp 2.500.000,-. Harga tiket yang dijual para calo bahkan melonjak sampai 3 kali lipat. Tepat pukul 20.30 waktu Gelora Bung Karno, lampu stadion serentak mati. Penonton bersorak, berteriak melepaskan energi. Inilah saatnya, suara drum, raungan gitar dan keyboard terdengar bersamaan dan sedetik kemudian lampu panggung menyala. Jon Bon Jovi, dengan membawa gitar tertawa lebar menyapa penonton Jakarta. Wajahnya nampak jauh lebih muda dibandingkan usianya yang sudah memasuki angka kepala lima. Tico Torres, menggebuk drum dengan energi yang menyala-nyala, rambut rapi yang mulai memutih membuatnya nampak lebih mirip Robert De Niro dengan stik drum untuk menghajar lawannya. Dan David Bryan, sepertinya tidak mengenal kata tua. Masih dengan model rambut yang sama seperti 20 tahun yang lalu. Berturut-turut lagu pertama adalah That’s What The Water Made Me, dilanjut dengan Who Says You Cant Go Home, dan Lost Highway. Tiga lagu ini berasal dari album Bon Jovi yang relatif “baru” dirilis di era tahun 2000an. “Tonight, we will sing some new and some old stuff” kata Bon Jovi selepas tiga lagu pertama. Kalimat itu dilanjut dengan lagu Raise Your Hand dari album Slippery when Wet. Selanjutnya, kerinduan para penonton terhadap Bon Jovi era 80 an terobati dengan munculnya You Give Love A Bad Name yang mengajak seisi Gelora Bung Karno malam itu untuk bernyanyi bersama.

Sampai selanjutnya lagu Bad Medicine , dengan bait terakhir sampai diulang 3 kali dan Bon Jovi mengucapkan terima kasih di akhir lagu. Panggung gelap, seperti menandakan pertunjukan sudah berakhir.Penonton mulai kompak berseru : “We want more!!!” berulang-ulang. Dan kejadian klasik di setiap pertunjukan musikpun terjadi hehehe. Alat musik kembali dibunyikan, pertunjukkan berlanjut. Tidak larut dalam nostalgia lagu lama, malam itu Bon Jovi menyanyikan We Don’t Run, lagu dari album terbaru Bon Jovi yang dirilis tahun 2015. Dibalut kaos dan jaket kulit terlihat tambah kecehhhh...

Dengan berbekal gitar, Bon Jovi melantunkan Runaway, sebuah hits tahun 80 an yang disusul dengan lagu Have A Nice Day. Waktu menunjukkan jam 10.30 ketika Bon Jovi mengambil gitar akustik, maju ke depan, dan mulai bernyanyi ” Once upon a time not so long ago, Tommy used to work on the docks …”. Itu adalah Living On A Prayer, yang sebait pertamanya dinyanyikan secara akustik. Lagu lagu penanda kejayaan Bon Jovi memang akhirnya banyak yang tidak mungkin dinyanyikan semua. Dan penggemar berharap kerinduan yang sangat kental untuk bernostalgia dengan list yang ada dikepala mereka . Termasuk saya salah satunya. Hehehe....

Dengan stamina yang cukup oke dan tampang yang masih kecehhh, penampilan Bon Jovi semalam diusianya yang tidak lagi bisa dibilang muda cukup memuaskan. Walaupun akhirnya saya pulang tetep merasa “kentang”.

Set List • That's What the Water Made Me • Who Says You Can't Go Home • Lost Highway • Raise Your Hands • You Give Love a Bad Name • Born to Be My Baby • We Don't Run • It's My Life • Because We Can • Someday I'll Be Saturday Night (Accoustic) • What About Now • We Got It Goin' On • In These Arms • Wanted Dead or Alive • I'll Sleep When I'm Dead • Keep the Faith • Bad Medicine Encore: • Runaway • Have a Nice Day • Livin' on a Prayer

 

 

 

 

 

Dalam rangka memberi hadiah ulang tahun for   “MyBabyShark” . Saya  memberi hadiah petualangan yang semoga  tak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.  Setelah melakukan segala persiapan baik perlengkapan, jalur pendakian, dan aktivitas yang akan dilakukan, akhirnya saya memberanikan diri membawanya ke air terjun Leuwi Hejo.  Berangkat jam 5 pagi , berharap jam 7 pagi sudah berada dilokasi. Saya memilih lokasi ini karena memang tidak terlalu  jauh dari tempat tinggal. Hanya 90 menit dari Sentul City. Rasanya memang tidak percaya masih ada desa seperti ini hanya beberapa jam dari Jakarta. Jalur dilokasi air terjun memang cukup berat untuk anak berumur 7 tahun.  Berkali kali dia bertanya kapan sampai? Kakinya sudah capek . Tapi saya memberinya semangat apabila  sampai dilokasi dia bisa  bermain di air terjun.  Berbeda dengan kolam renang yang biasanya . Melewati jembatan kayu, menuruni batu batu yang terjal, berjalan mengikuti aliran air sungai. Banyak hal yang dia tanyakan. Seperti mengapa di desa sedikit sekali kendaraan yang lewat. Dan apa yang sedang dilakukan petani yang sedang menyemai di sawah yang kami lewati. Setelah kurang lebih 2 jam akhirnya kami sampai di air terjun. Dan dia sangat menikmati petualangan ini. Mulai dari berenang dan berendam di air terjun,  mencari batu alam yang menurutnya cantik untuk di bawa menjadi oleh oleh untuk sahabat sahabatnya di sekolah.  Dari petualangan ini secara menyenangkan saya  mengajarkan kepadanya  arti kerja keras dan pencapaian.

 

Berikut kecerdasan yang dapat menstimulasi anak ketika melakukan kegiatan petualangan di alam bebas :

 

Kecerdasan kinestetik: melakukan petualangan alam bebas identik dengan melakukan gerakan. Mereka mungkin akan merangkak, berjalan, melompat, menunduk, berlari, berenang, dsb. Dengan melakukan itu semua, kecerdasan kinestetik mereka akan terasah. 

Kecerdasan Naturalis : adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.

Kecerdasan intrapersonal:
adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bersikap, berperilaku sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh diri kita tersebut. Pemahaman yang dimaksud berhubungan dengan kelemahan-kelebihan yang dimiliki, mood yang dialami, keinginan, kemampuan, dll.  Dengan berpetualang ke alam bebas, anak memiliki kesempatan mengasah kecerdasan ini. Anak akan dilatih mengukur kemampuannya ataupun "menantang keterbatasannya" dan melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Anak juga belajar menjadi mandiri, realistis terhadap situasi, dan belajar bersikap dalam menghadapi segala keberhasilan maupun kondisi yang kurang menyenangkan baginya (misal saat anak terjatuh).

Kecerdasan interpersonal: adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok. Berpetualang, biasanya  dilakukan bersama orang lain, walaupun bisa juga dilakukan sendiri. Dengan berpetualang ke alam bebas, kecerdasan interpersonal akan terasah, seperti: berlatih bergaul/mengahadapi orang lain dalam berbagai situasi, beradaptasi dengan lingkungan/masyarakat baru, belajar terlibat/berpartisipasi dalam kegiatan berkelompok, dapat berempati pada orang lain.

Sebelum pulang kami menyempatkan untuk berkunjung kesekolah lokal yang masih dekat dengan lokasi air terjun Leuwi Hejo. Disini dia berkenalan dengan anak anak setempat. Senang sekali rasanya bisa mengajarkannya banyak hal dalam petualangan ini.


“I will teach you from mother of earth...Because nature always wears the colors of the spirit.”

 

 

 

 

 

Pagi yang disambut hujan membuat rindu dengan sajak sajak indah ...

 

PADA SUATU PAGI HARI


maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu

ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa...


ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur

ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi

 

HUJAN BULAN JUNI

 
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
 

 

 KUHENTIKAN HUJAN


kuhentikan hujan, kini matahari merindukanku

mengangkat kabut pagi perlahan

ada yang berdenyut
dalam diriku
menembus tanah basah
dendam yang dihamilkan hujan
dan cahaya matahari

tak bisa kutolak matahari
memaksaku menciptakan bunga-bunga


 

Java Jazz Festival 2015 (JJF 2015), selalu menjadi pesta   musik  yang  saya tunggu.Dengan tiket (3 day pass) yang saya persiapkan jauh hari.  Saya  menikmati 3  hari  konser musik berkualitas.Jum`at semangat menghantarkan saya sampai ke lokasi.  Walau akhirnya janji untuk menonton   Andre Dinuth Solo project terlewatkan.  Maaf ya Ndre…

Saya langsung ke  D2 MAIN STAGE .   Mengingat tak ingin melewatkan Glenn Fredly . Bersama , Bams, Marcell dan Sandhy Sondoro mereka berhasil membuat para penonton bergoyang. Mereka menghibur penonton dengan gaya masing masing. Sangat memukau dan pastinya saya tetap merasa kurang untuk menikmati aksi Glenn Fredly  . Ya… memang Glenn selalu dihati  dan pastinya  tak akan pernah merasa cukup mendengarnya bernyanyi.

Lalu tanpa sengaja ketika perut saya kelaparan saya mendengar kolaborasi musik yang sangat indah di panggung BIG  TV.  Ternyata Bintang Indrianto Trio ++.   Gitaris Denny Chasmala dan drummer Iqball .  Jadi tanda  ++  sesuai tambahan personil di panggung. Bagaimana  mereka mempersembahkan suara suling,  gitar,  drum  dan perkusi tradisional menjadi harmony yang sangat indah.  Saya selalu kagum dengan para seniman yang dapat menggabungkan alat musik tradisional  Indonesia dengan alat  musik modern.

Setelah itu saya menyempatkan diri  ke panggung  Dian Pramana Putra di  D1 SIMPATI HALL. Sepertinya saya kurang menikmati karena hanya beberapa lagu yang saya tahu. Itupun pastinya ya lagu legenda saja. Gep terlalu jauh jadilah  lintas generasi. Hahahahaha…

Satu yang tak pernah  akan saya lewatkan adalah aksi solo gitaris Dewa Budjana. Dia banyak membawakan album barunya. Penonton dibuat tenggelam dengan permainan  gitar khas  Dewa Budjana secara instrumental. Sempurna dengan ‘Joged Kayangan’, ‘Jaya Prana’ dan ‘Lamboya’ dan tampil dengan diiringi saksofon Ricad Hutapea.

Selanjutnya saya langsung ke  A3 BNI menanti aksi panggung Sheila on 7.   ” Band Generasi gw bgt” . Sepertinya Sheila on 7 menjadi  perwakilan  dari band yang  bukan bergenre  jazz.  Masuknya Sheila on 7 ke panggung Java Jazz tidak sendirian  tetapi ditemani  Ron King Horn Section.  Ada di beberapa lagu dimana Duta sang vokal sempat tidak  mix dengan  iringan Ron King.  Tapi secara keseluruhan aksi panggung Sheila on  7 cukup memuaskan keinginan para pengagumnya. Penampilan Sheila on 7 menjadi penutup hari pertama Java Jazz Festival 2015  hari pertama.

 Hari ke dua JJF 2015  ingin saya awali dengan aksi Lisa Ono. Tetapi  Lisa Ono terlalu sore  dan saya  masih lelah.  Juga  menunggu  kabar dari seseorang yang tak mau berkabar…Hey kamoohhh apa kabar ? Hahaha…Berharap tidak membawa kendaraan sendiri ke lokasi. Tapi apa daya harus saya niatkan untuk   pergi sendiri. Semoga energi saya cukup besar untuk  sabar dengan urusan macet dan  susah parkir.Di lokasi JJF 2015  saya sudah ditunggu oleh sahabat saya yang ngefans berat sama Tulus.  Malam ini bisa saya sebut fenomenal Tulus.  Antrian menggila dan sudah tidak diperbolehkan masuk.  Jujur kalau bukan karena sang sahabat . Saya sudah menyerah  untuk tetap bertahan dalam antrian. Tapi karena saya tahu dia fans berat  Tulus.  Kami berjuang untuk bisa masuk bersama.

Dengan segala cara meminta bantuan crew kameramen  kamipun bisa masuk. Dan untunglah di posisi yang cukup nyaman.Masih bisa bergerak untuk sedikit bergoyang dan melihat senyum Tulus menyanyikan  Jatuh Cinta, Gajah, Teman Hidup, Sepatu dan Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Saya senang  meliat wajah sahabat saya yang sumringah setelah semua lagu kesukaannya dinyanyikan. Selanjutnya kami ke D2 MAIN STAGE menantikan aksi panggung Chaka Khan feat Incognito. Lagi lagi kami beruntung dibelakang panggung tempat “lightingman”  beraksi.Kami bisa slapslip dan mendapat posisi wenak   tanpa ada halangan. Secara utuh bisa melihat aksi panggung yang memukau dengan  duduk  manis dan berdiri ketika perlu bergoyang. Still a Friend of Mine kami nyanyikan dengan berpegangan tangan. Mesranya kami berdua , hahaha… Dan moment yang paling seru ketika Chaka Khan mengajak menyanyikan Tell Me Something Good. Paduan Chaka Khan dan Incognito malam itu sempurna.Ketika perjalanan  pulang kami masih sempat melihat Kahitna beraksi. Lumayanlah masih bisa menyanyikan dua lagu  dan di panggil “cantik “.

Hari ketiga saya menyempatkan diri  hanya sebentar menikmati JJF 2015. Melihat aksi  panggung Maruli Tampubolon yang cukup mengambil perhatian.  Tanpa harus menyebutkan nama mereka satu persatu. Sepertinya cukup banyak aksi pria batak di JJF tahun ini.Walau sudah memegang tiket Jessie J, saya tidak berniat sampai larut malam di hari ke 3 ini. Mungkin karena sendirian dan sudah lelah , dan besok hari harus bekerja.

Terima kasih untuk Java Jazz Festival 2015. Sampai bertemu di Java Jazz tahun depan.