Gunung Papandayan adalah sebuah gunung aktif dengan ketinggian 2665 Mdpl yang berada di desa Cisurupan, kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini tidak pernah termasuk dalam list saya ketika masih aktiv menjadi anggota MAPALA. Tapi setelah tenaga tidak lagi seperti dulu, akhirnya gunung ini cukup mengobati rindu terhadap suasana pendakian.

Sebenarnya sudah dua puluh tahun lalu saya ingin mendaki gunung Papandayan. Tapi karena beranggapan dekat dan... ahhh, gampanglah nanti- nanti aja. Jadilah baru kali ini kesampaian. With my best buddy, setelah perjalanan 9 jam dari Jakarta menuju Garut. Sebelum melakukan pendakian, kami menginap satu hari ditempat kemping yang sangat unik bernama Papandayan Camping Ground. Seperti rumah diatas pohon yang sangat menyatu dengan alam. Imipian masa kecil tinggal dirumah pohon menjadi nyata.

Siang hari setelah matahari turun kami baru memulai pendakian. Setelah membeli tiket parkir dan tiket untuk pendakian, guide andalan kami lalu mengajak untuk memulai perjalanan. Gunung papandayan ternyata mempunyai pesona malam yang sangat bagus. Karakteristik gunung yang cukup unik dan semua bentuk vegetasi di gunung ada di Papandayan. Kawah, edelwise, hutan mati. Lengkapkan....Malam hari cukup cerah banyak terlihat bintang di langit, dan juga suasana pos pendakian yang ramai membuat kami cukup senang menikmati malam di sini. Tapi faktor usia, kami memilih tidorrr.

Di sekitar kawah pendaki dituntut hati-hati karena di sebelah kiri jalur pendakian gunung Papandayan ini jurang yang lumayan curam, di bawahnya air kawah yang mendidih dan mengepulkan asap dan baunya cukup menyengat. Jalur pendakian gunung Papandayan melewati kawah sekitar 30 menit – 60 menit, tergantung cepat lambatnya perjalanan. Tidak perlu khawatir, tanjakan jalur pendakian gunung Papandayan cukup landai, sehingga cocok bagi pendaki pemula.

Dalam perjalanan kali ini kami tidak mendapatkan sunrise yang indah, tapi Papandayan membuat kecintaan kepada perjalanan di gunung akan kembali lagi. Bagaimanapun berada di ketinggian memanglah sesuatu yang menyenangkan. Pemandangan yang menakjubkan dan segala sensasi tak terlupakan. Tapi untuk mencapainya butuh persiapan fisik dan mental. Karena untuk sampai di tujuan, butuh waktu, energi dan kemauan yang kuat. Dan tetap sehat untuk turun dan kembali pulang...

 

 

Indonesia memiliki banyak spot diving  terbaik yang tersebar diseluruh  pulau-pulau negeri ini. Satu persatu harus dicicil, sebelum menjadi rusak. Ya...sebelum menjadi rusak! memang kalimat yang tidak indah untuk diketahui tapi begitulah kenyataan yang ada. Semakin banyak yang tahu lalu berduyun duyun kelokasi tersebut, lalu karang-karangnya mulai rusak.

Tepat tanggal 14 February kami (my first buddy my best buddy) melakukan penyelaman ke Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Untuk sampai ke Bolsel, bisa melewati bandara Sam Ratulangi atau bandara Sultan Jalaluddin di Gorontalo, kami memilih via Gorontalo. Datang dari Gorontalo via darat lebih efisien sejam dibanding Manado.

Tiba di Bolsel lalu melakukan check dive di dive spot Kuwait atol . Gak perlu jauh, hanya sekitar 15 menit dengan boat, itupun sudah sangat mempesona. Berikut titik penyelaman yang kami lakukan :

Sakau 1 point

Sakau 2  Point

Mathilda point

Silver Tower point

Barres point

Taman Laut Bolsel memiliki ciri khas tersendiri, perpaduan kontur karang wall dan slope, membuat Bolsel memiliki kesan tersendiri bagi para penyelam, di Bolsel juga kita akan bertemu dengan lignose atau Salvador dali. Apabila beruntung kita akan mendapatkan  arus kuat maka bersiaplah   dilalui ikan yg bolos sekolah dalam jumlah yang sangat banyak. Para nelayan di Bolsel masih menangkap ikan dengan cara tradisional. Mereka percaya dengan menghargai dan menjaga alam bawah laut mereka sebagai berkah dan mata pencaharian jangka panjang untuk generasi yang akan datang. Menyelam di Bolsel seperti menemukan permata yang masih berkilau alami.

Dive di Bolsel memang anti mainstream. Kota yang sedang bertumbuh dan belum banyak penyelam yang mengetahui surga bawah laut di  Bolsel. Saya senang  bertemu teman-teman  komunitas Bolsel Diving Club , berbagi cerita  tentang kota mereka dan rencana kota mereka yang sedang dikembangkan. Setiap siang makan  dipantai-pantai yang indah dan  ketika melakukan surface interval di Pantai Milangoda'a, menikmati kelapa muda, dan berinteraksi dengan nelayan setempat.

Waktu terbaik menyelam di Bolsel adalah antara November hingga Mei. Saya merekomendasikan agar  menggunakan guide lokal setempat. Silahkan menghubungi Yubz di +62 815-2390-0911. Beliau seorang Diveguide di Bolsel yang sangat mengerti setiap jengkal dive spot disana dan juga seorang underwater photographer yang handal.

Dihari terkahir penyelaman di Bolsel malamnya kami melanjutkan perjalanan via darat ke Gorontalo untuk selanjutnya diving disana.

Collect Moments, Not Things. You'll Have No Regrets When You Get Old...

 

Pulau Plum/Plun  atau Pulau Tengah adalah surga kecil bagi para pecinta aktivitas laut.  Taman bawah lautnya sangat indah dan masih terjaga. Menurut data dari situs Pemkab Halmahera Timur, Pulau Plun memiliki panjang 1 km dan lebar 250 m sehingga jika kita mengelilingi pulau ini tidak lebih 2.5 km.

Akses ke Pulau Plun sangat mudah. Dari Ternate menuju Maba dengan pesawat Wings Air sekitar 20 menit.  Dari Maba perjalanan dengan speedboat memakan waktu 30 menit. Sedangkan apabila  dari Buli menuju Pulau Plun membutuhkan waktu 1 jam 30 menit.

Pada tanggal 30 Desember 2017 sampai awal tahun baru 2018 saya mendapat kesempatan mengunjungi Pulau Plun bersama Kadis Hamahera Timur Bp. Hardi Musa. S.Pd.MA  dan  bersama dua sahabat diver dari Ternate,  Ismu  dan Marlon. Mereka cukup banyak memberikan kontribusi untuk kemajuan Pulau Plun.  Di Plun resort yang tenang  ini, banyak aktivitas yang dapat kita lakukan. Diving, snorkling, sekedar bermain pasir, membaca-baca buka dipinggir pantai, bermain kano,  jungle track menyaksikan burung Maleo, endemik Halmahera, juga aktivitas fotografi. Sore hari kita bisa menikmati migrasi ratusan  kalelawar atau yang biasa penduduk setempat  memanggilnya dengan sebutan paniki. Pasirnya yang sangat  putih, dan vegetasi hutan juga masih sangat alami. Kelapa, cemara laut, pandan laut, mangrove. Selama berada di Pulau Plun saya bebas dari gigitan  serangga yang biasa sangat mengganggu.

Dan bukti dari kekayaan ekosistem bawah laut di Pulau Plun adalah  setiap pagi dan sore hari, saya selalu  menyaksikan baby shark hilir mudik dibawah jembatan. Ketika melakukan penyelaman  di dive spot  Plun poin 3 dan  Plun poin 2 saya beruntung diberi  kesempatan bertemu dengan hiu dengan berbagai ukuran, schooling baracuda, bumped head parrot fish, dan masih banyak lagi. Sungguh Pulau Plun memiliki kekayaan laut yang luar biasa.

Saya merasa senang, bisa berbagi dan memberi semangat untuk Pemda Halmahera Timur agar fokus kepada pengembangan wisata mereka. Semoga Pemda Halmahera Timur  mampu  mengembangkan dan mengelola destinasi wisata secara profesional. Potensi daerah yang butuh perhatian dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan selain sumber daya alam (nikel) yang tidak dapat diperbaharui. Karena dalam perjalanan ke Pulau Plun saya melihat efek dari  pertambangan yang sangat menghancurkan ekosistem disekitarnya. 

 

 

Bagi para penyelam seperti saya, Raja Ampat, Papua Barat menjadi salah satu lokasi menyelam yang wajib dalam daftar keinginan. Pulau ini mampu menghipnotis siapa saja yang berkunjung. Kumpulan pulau-pulau indah ini termasuk dalam "Coral Triangle", daerah paling kaya alam bawah lautnya di bumi. Raja Ampat adalah destinasi yang tersimpan rapih didalam hati dan pikiran, untuk dinikmati di waktu yang tepat bersama orang yang tepat.

Hari pertama di bulan desember 2017 kami mendarat di Bandara Dominique Edward Osok, Sorong. Lalu melanjutkan transportasi ke Pelabuhan kapal ferry dari Sorong menuju Pelabuhan Waisai. Untuk penumpang yang memilih kelas Ekonomi, ongkosnya adalah Rp. 130.000. Sedangkan untuk kelas VIP, ada fasilitas karaoke sekitar Rp. 400.000. Baik Ekonomi maupun VIP, sama-sama nyaman.

Saya dan team menginap di Hamueco Dive Resort, Raja Ampat. Resort milik sahabat yang juga seorang penyelam. Hamueco memiliki 6 kamar tidur yang semuanya memberikan kenyamanan, balkon/teras, shower, jaring anti nyamuk, dan kamar mandi bersama yang cukup bersih. Ini adalah rumah kayu yang berada langsung di atas air laut. Memandang matahari terbit dari sisi kiri dan menunggu matahari terbenam dari sisi kanan. Untuk ventilasi kamar , dinding-dinding pada ruangan sengaja tidak tertutup rapat, sehingga angin laut serasa langsung menerpa seluruh ruangan. Menu makanan yang disajikan sederhana tapi cukup nikmat. Hamueco memiliki instruktur yang bernama Nando yang cukup mengerti setiap jengkal dive spot di Raja Ampat. Dia bersama istri dan anaknya tinggal di resort tersebut, membuat rasa kekeluargaan diantara kami selama seminggu terjadi begitu akrab.

Pada hari ke-6 di Hamueco, karena memang saat itu adalah fullmoon dan cuaca berubah sewaktu-waktu. Saya sedikit takut karena sekitar 04.00 wit, petir dan ombak datang menderu-deru. Tapi itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Dan menjadi bagian sensasi tinggal di resort yang berada ditengah laut yang cukup indah untuk dikenang.

Berikut adalah dive spot dan land tour yang kami explore selama di Raja Ampat :

Land tour ke Pianemo, ikon Raja Ampat. Sudah tersedia tangga menuju Puncak Pianemo. Lalu melanjutkan ke puncak bukit karst yang bernama telaga bintang. Karena ketika sampai puncaknya kita dapat melihat telaga berbentuk bintang. Kami tidak berlama-lama di Telaga Bintang, mengingat ada rombongan lain yang sudah mengantri di bawah sana. Turunnya tetap harus perlahan-lahan dan waspada, jangan sampai tergores karang yang cukup tajam atau terpeleset kerikil di beberapa bagian yang curam. Selanjutnya melihat-lihat desa wisata Arborek dan Yenbuba.

Hari-hari selanjutnya adalah Dive...Dive...Dive...

Dive #1 adalah Mikes Poin disini cerita dive hari pertama dimulai. Saya yang biasanya menggunakan 3 pemberat mendadak sulit sekali untuk turun, sehingga tertinggal dari team. Saya tidak melanjutkan penyelaman disini. Langsung naik ke boat dan menunggu team menyelesaikan penyelaman pertama. Saya penasaran dengan Mikes Poin,dan akan kembali lagi. Sungguh dive spot ini paling menantang saat entry dive nya. Wajib dan HARUS Negatif Entry. Karena ketika saya tidak bersama-sama dengan team di penyelaman #1 ini telah mengakibatkan mereka tidak fokus dalam penyelaman dive #1.

Lokasi dive #2 adalah di Friwen, yang jaraknya sekitar 30 menit dengan mengendarai boat dari dive spot sebelumnya. Kami mulai turun menyelam pada jam 11.00 wit, pada kedalaman sampai dengan 22 meter, dan visibility atau jarak pandang yang dapat dilihat di dalam laut mencapai 15 meter. Ikan-ikan yang sempat saya saksikan adalah moray eel, nudi branch dan schooling fish.

Penyelaman berikutnya dilakukan setelah makan siang. Yakni, dive #3 di spot yang dinamakan Five Rocks. Kami mulai menyelam pada jam 15.00 wit, pada kedalaman 19,8 meter, dan visibility 15 meter, serta sangat berarus. Ikan-ikan yang kami temui mulai beraneka ragam, nudi branch, fish pipe dan mooray eel. Dan yang paling mengagumkan adalah ketika pemberhentian terakhir, arus mulai tenang serasa berada di akuarium yang indah.

Blue Magic #4. Naik boat hanya 45 menit. Lalu kami turun menyelam pada jam 10.00 wit, dengan kedalaman hingga 19 meter. Disini, kami melihat karang-karang yang cantik, schooling fish .Visibility mencapai 15 meter, dan arusnya kuat.

Cape Kri #5 Disini, kami turun menyelam pada jam 13.00wit. Melihat coral yang cantik, schooling blue fish, nudi branch, barracuda, white tip shark, schooling yellow and gold fish. Visibility yang kami alami mencapai 15 meter, dengan arus kuat, sehingga membuat kami menggunakan hook di bebatuan karang. Menyelam di spot Cape Kri - Raja Ampat jelas sangat menawan dan tak akan bisa dilupakan. Karena, dengan arus dalam laut yang sedang dan terkadang berubah kuat membuat kita dikelilingi ikan. Hiu karpet atau wobegong bisa kita temui disini.

Sardine reef #6 Di sisi timur Kri. Seperti namanya dive spot ini markasnya para kawanan ikan Sarden gak hanya ratusan tapi jutaan. Menyelam di sini bersiap-siap berjumpa hujan badai ikan Sarden.

Manta Sandy #7 juga merupakan pegalaman menyelam yang sangat menakjubkan. Kami menunggu di kedalaman laut 12 meter, berjajar di coral-coral yang memang sengaja disusun, untuk dapat menyaksikan betapa besar dan lebarnya ikan Pari Manta. Ikan ini berenang melintas di atas pasir dan berkeliling tak tentu arah diatas kepala kami, dengan gerakannya yang elegan.

Untuk dive #8, spot-nya berada di Arborek Jetty. Disini, kami mulai turun menyelam pada jam 11.00 wit, hingga kedalaman 18,1 meter. Ikan yang kami jumpai schooling fish dan under jetty. Spot Arborek Jetty memiliki visibility 20 meter, dengan arusnya yang sedang.

Sauwandarek dive #9 Letak Desa Sauwandarek ini berada di Selat Dampier yang memiliki beberapa titik menyelam. Suasana tradisional di desa ini terasa sangat kental. Hari terakhir penyelaman ditutup dengan atraksi keindahan  bawah laut  yang luar biasa. Bahkan dari boat saya bisa menikmati bawah laut yang indah dengan ikan-ikan yang berkumpul dibawahnya. Pemandangan ini bisa dilihat dengan mata telanjang. Ketika menyelam ikan- ikan masih sangat banyak. Sepanjang perjalanan menuju dan pulang mata ini  dimanjakan oleh keindahan karang, ikan, dan biota laut lainnya.

Hari terkahir adalah khusus untuk istirahat menjelang pulang ke Jakarta. Karena, sesuai peraturan diving, penyelam tidak diperkenankan melakukan diving minimal 24 jam sebelum terbang. Kemudian esok harinya, dengan kapal ferry jam 09.00 wit kami menyeberang lautan menuju Sorong. Tepat jam 11.00 wit, kapal ferry merapat. Kami menikmati makan siang di Rumah Makan Goyang Lidah, Sorong, berbelanja oleh-oleh cendramata dan makanan khas lokal setempat.

Raja Ampat memang surga bagi para penyelam,  keindahan bawah  lautnya, gugusan bukit karst, budaya, dan keramahan yang saya temui pada penduduk di desa-desa wisata. Bagi saya Raja Ampat menjadi destinasi yang penuh dengan sensasi. Adrenalin yang diuji dan hati yang sedang terusik inipun ikut diuji. Destinasi penyelaman  yang tak akan pernah saya lupakan, dan berjanji untuk kembali lagi, lagi, dan lagi...

Karena di Raja Ampat Hatiku Tertambat...

Saya memiliki rencana untuk menjelajahi seluruh kepulauan di Maluku Utara. Seperti ada pepatah mengatakan "tak kenal maka tak sayang". Bagaimana mungkin saya mengajak orang-orang untuk datang ke Maluku Utara jikalau saya tidak mengetahui detail setiap pulau-pulaunya, sejarahnya, dan budayanya. Dan destinasi berikutnya yang saya kunjungi adalah Tobelo dan pulau-pulau indah yang mengelilinginya.

Tobelo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Indonesia. Tobelo juga merupakan ibukota kabupaten. Pada tahun 2003 melalui pemilihan distrik menjadi Kabupaten Halmahera Utara yang sebelumnya merupakan sebuah kecamatan. `wikipedia.org.

Tobelo memiliki wilayah di pesisir pantai timur dari semenanjung utara Halmahera yang indah dan memiliki sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Memang diakhir 1999 terjadi kerusuhan besar yang melanda Tobelo dan sekitarnya. Namun itu cerita dahulu, karena sekarang kota ini sudah mulai tertata kehidupannya. Kota ini mengajari saya arti melupakan masa lalu yang pahit dan berbenah diri merenda masa depan yang lebih baik. Terkadang cerita pahit memang mampu menjadi pelajaran sekaligus guru yang paling hebat. Saya menyempatkan diri ke Monumen Air Nusantara yang berada ditengah kota. Tugu ini sebagai perjanjian bahwa semua suku akan mejaga kedamaian serta persatuan di Tobelo.

Apalah artinya perjalanan tanpa menyelam. Salah satu lokasi yang menarik di kota Tobelo sudah pasti adalah pantai dan bawah lautnya. Tanjung Kakara merupakan salah satu pesona Tobelo yang indah dengan pasir putih dan keindahan bawah lautnya, sehingga disini menjadi salah satu spot favorit para penyelam untuk snorkelling dan diving. Sementara itu di bawah laut perairan Pulau Bobale terdapat berbagai peninggalan Perang Dunia II. Bergeser sedikit ke sebelah utara Tobelo, berjarak sekitar 25 km, ada Telaga Duma di Galela. Telaga Duma Galela ini adalah danau paling besar di Halmahera dan memiliki nilai sejarah penting untuk penduduk setempat. Telaga ini menyajikan keindahan alam nan indah dan alami.

Firman, instruktur dan guide dive  yang mendampingi saya untuk menikmati keindahan bawah laut Tobelo sangat memahami setiap jengkal wilayah Tobelo. Dia memberikan beberapa informasi beberapa titik lokasi diving. Lokasi tersebut berada di Pulau Lima, Pulau Tupu-Tupu, Pulau Pawole, Pulau Kakara Besar, dan Volcano Underwater di Galela. Saya jatuh hati pada dive spot volcano. Berbeda dengan Krakatau, atau volcano di Pulau Weh, dan Mahangentang di Tahuna, Sulawesi Utara. Volcano underwater yang di Galela ini lebih mirip seperti sumbu panas bumi yang berada didalam laut. Tidak ada rasa belerang dikandungannya. Pemandangan yang fantastis dan softcorall berwarna-warni, kehidupan laut lainnya yang berkilauan dengan suhu yang berbeda-beda. Bagi saya ini sensasi yang super seru. Saya sangat merekomendasikan Tobelo khususnya dive spot volcano. Benar-benar masih asri, dengan pantai indah berpasir hitam yang lembut dan pepohonan yang menjorok ke laut, suasana sejuk dan nyaman. Makan siang di pantai diantara dua dive menjadi terasa singkat walaupun sudah jauh melebihi batas waktu surface interval.

Dari  Tobelo saya melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Dan sudah saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya.