Pulau Morotai merupakan salah satu daerah yang memiliki otonom setelah dimekarkan dari kabupaten induk Halmahera Utara pada tahun 2008. Dengan memiliki luas 695 mil persegi/1.800 km², Pulau Morotai dikenal memiliki potensi kepariwisataan. Baik wisata bahari maupun wisata sejarah. Berada di bibir Samudra Pasifik dan berbatasan langsung dengan Filipina membuat Morotai sangat strategis dalam PD II waktu itu. Morotai pernah menjadi bagian dari strategi lompat katak Panglima Perang Pasifik Pasukan Sekutu Jenderal Douglas MacArthur merebut kembali Filipina dari Jepang sekaligus memutus pergerakan Jepang di Pasifik barat daya. Pulau ini sungguh sangat bersejarah.

Lomba foto bawah laut yang diselenggarakan Kemenpar membawa saya menikmati pulau yang indah ini. Wonderful Morotai Islands Festival  berlangsung setiap tahun dengan berbagai acara dan ragam budaya selama enam bulan, dari Mei hingga Oktober 2017.  Acara Wonderful Morotai menampilkan berbagai event unggulan yang bertumpu pada daya tarik wisata alam (nature), wisata budaya (culture) dan wisata buatan manusia (man-made).

Saya menginap di D' Aloha Jababeka Resort. Lokasi yang strategis, spot terbaik menanti sunset. Sangat nyaman dan rekomen. Lima  hari disana menjadi tak terasa, pagi bersepeda sebelum sarapan pagi, dilanjutkan  jam 10  gear up untuk persiapan diving, pulang sore menanti sunset didepan kamar. Hidup yang nikmat dan santai. Di kedalaman 40 meter saya bisa menikmati pesawat Bristol Beaufort, pesawat pembom dan pembawa torpedo, bermesin dua, berawak empat orang, dan mampu terbang dengan kecepatan 400 kilometer per jam dengan menggendong semua senjata. Ada senapan mesin di moncong, untuk melindungi pesawat dari serangan fighter Jepang. Amunisi berserakan di lantai pasir sekitar pesawat. Laras senapan masih utuh, kendati berselimut karang, dan baling-baling yang copot. Semua begitu menarik untuk diabadikan dengan kamera, atau didokumentasikan ke dalam video. Dari Daruba, ibu kota Kabupaten Morotai, situs selam bangkai Perang Dunia II hanya berjarak 15 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat. Lokasi situs di lepas pantai Desa Wamama.

Sepanjang perjalanan  masih dapat dinikmati bekas landas pacu pesawat tempur, yang sekujurnya ditumbuhi belukar dan pepohonan. Dulu, orang masih melihat banyak bangkai kapal di pinggir landasan, kini tidak ada lagi. Penduduk mencincang bangkai kapal itu satu per satu.

Di Morotai, Jenderal McArthur menggempur Jepang di Filipina dan mengubah sejarah perang. Usai perang, McArthur memenuhi janji kembali ke Filipina, Morotai terlupa. Pulau di Halmahera Utara, Kepulauan Maluku ini kembali dilirik  ketika Teruo Nakamura, prajurit Jepang yang menolak menyerah ditangkap penduduk dan dipulangkan.

Saya sangat menikmati Pulau Morotai, dan semakin jatuh cinta dengan pulau yang dimiliki Maluku Utara. Hamparan pasirnya putih, bawah lautnya menawan, selain dive spot World War II saya sangat senang bertemu dengan hiu-hiu yang lincah di Mitita dive spot. Semoga penduduk dan nelayan setempat tetap menjaga kelestarian baik darat dan bawah lautnya.

Di Pulau Dodola sebagai icon Morotai saya juga melihat kesadaran yang sudah cukup tinggi untuk menjaga lingkungan. Terbukti dengan tempat sampah yang mudah ditemukan.

Kemenpar terus mempromosikan Pulau Morotai  baik di dalam negeri dan luar negeri. Wonderful Morotai yang diselenggarakan  setiap tahun, diharapkan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Sebagai museum Perang Dunia II, Morotai dipastikan tidak akan pernah lagi menjadi pulau yang terlupa. Tetapi semakin maju dan bersaing dan mampu sejajar dengan destinasi wisata Indonesia lainnya.