Pulau Ternate terkenal dengan keindahan alamnya. Maluku Utara memang memiliki banyak tempat wisata terutama untuk  wisata alam dan sejarah dengan berbagai  panorama yang indah. Kekayaan bawah lautnya juga tidak dapat dipungkiri. Spot penyelaman didepan dermaga penuh dengan berbagai spesies ikan. Bahkan bisa ditemukan walking shark hanya dikedalaman 3 meter dari bibir pantai. Gunung yang tertutup kabut dipagi hari dan pulau-pulau kecil sejauh mata memandang sungguh lukisan Tuhan  yang maha sempurna. Jadi kita dapat mengambil kesimpulan mengapa Pulau ini dijajah oleh bangsa Eropa secara  silih berganti.

Dengan statusnya sebagai pusat rempah dunia pada beberapa ratus tahun silam, tak mengherankan jika begitu banyak berdiri benteng-benteng peninggalan zaman penjajahan dulu kala, tepatnya ada 8 benteng di Ternate mulai dari benteng Oranje, Kalamata, Tolukko, Kastela, Kota Janji, Kota Naka, Bebe, dan Takome. Bahkan dalam catatan Belanda, ada 12 benteng termasuk sebuah benteng dari kayu yang sudah tidak ditemukan lagi jejaknya, yaitu benteng Kalafusa. Benteng Tolukko menjadi salah satu benteng favorite saya. Di benteng ini pemandangannya sangat bagus untuk melihat gunung Gamalama, serta laut biru yang indah.

Selanjutnya pemandangan danau Ngade...Danau Ngade ini berada dalam satu garis lurus dengan Pulau Maitara dan Pulau Tidore ketika melayangkan  sejauh mata memandang. Danau Ngade yang sangat romantis sangat menghipnotis. Sayangnya saya hanya menikmatinya dengan supir yang merangkap tukang poto. Membayangkan menikmati pemandangan ini bersama Adam Lavine vokalis Maroon 5 itu  pasti danau ini lebih romantis lagi. Hahahaha....

Beruntung  memiliki supir yang cukup cerdas untuk mendapatkan   spot yang tepat. Saya melihat Danau Ngade, Gunung Maitara, dan Gunung Tidore dalam satu frame. Itulah pemandanga sore hari di Ternate sebelum mengejar flight ke Bandara Sultan Babullah. Rasanya terlalu singkat  berada di Ternate. Saya berjanji akan kembali lagi....

 

 

 

Sanana merupakan ibukota dari Kabupaten Kepulauan Sula yang terletak di wilayah provinsi Maluku Utara namun berbatasan langsung dengan provinsi Maluku (Ambon). Jarak Sanana dengan Kota Ternate +/-  284 km. Sanana  dapat dicapai dengan menggunakan transportasi kapal laut, dengan waktu tempuh kurang lebih 14-15 Jam dari Ternate . Kapal berangkat dari Pelabuhan A. Yani Ternate yang juga merupakan pelabuhan bongkar muat di Kota Ternate. Menurut informasi periode gelombang laut dibulan Mei sampai Oktober cukup buruk. Silahkan merencanakan waktu terbaik untuk perjalanan ke Pulau Sula. Kapal yang saya gunakan saat itu  cukup nyaman, ditambah  dengan sahabat-sahabat yang sangat menyenangkan, waktu 14 jam sepertinya tidak terasa. Pagi hari kami sudah berada di Pulau Sula.

Sebelum kerajaan Ternate menduduki Sula sistem pemerintahannya berbentuk kesatuan sosial yang bersifat organisasi masyarakat desa, dengan kepala pemerintahannya bergelar kepala soa dan sekaligus merupakan panglima perang. Sula sendiri adalah nama yang diberikan oleh sultan Baabullah yang berarti menara atau tiang panjang , setelah melihat kondisi kepulauan yang datar atau rata. Penamaan ini pertama kali dilakukan saat ekspansi kekuasaan Sultan Ternate yang terjadi hingga kepulauan sula 1575. Di bawah kepemimpinan Sultan Babullah ekspansi ini juga menjadikan sistem pemerintahan di Kepulauan Sula mengalami perubahan. Kepulauan Sula kemudian di pimpin oleh seorang Salahakan, dimana menjalankan pemerintahan dibantu oleh Sangaji-Sangaji dari 4 (empat) yalai terbesar di Sula . Baik salahkan maupun Sangaji – Sangji semuanya dipilih dan diangkat atas prsetujuan Sultan. Ke-4 Suku yafai yaitu Yafai Fatce ,Yafai Fagudu ,Yafai Faahu dan Yafai Mangon .Yafai Fatce menempati wilayah barat pulau Sula Besi , bagian selatan di tempati Yafai Fagud dan bagian utara oleh Yafai Faahu. Sedangkan di Bagian timur ditempati Yafai Mangon. Pada wilayah-wilaya ini mereka hidup berpencar. Dan di pegunungan maupan di pesisir pantai dengan beberapa keluarga berdasar kepala soa-soa tertentu. Mereka kemudian dikenal dengan nama Matapia sua atau orang sula yang didalamnya termasuk masyarakat fogi, yang waktu itu masih mendiami daerah pegunungan.

Lokasi-lokasi yang menjadi target pengembangan wisata bahari di Pulau Sula adalah sebagai berikut :

  1. Terumbu karang di lokasi Tanjung Waka dengan merfologi terumbu karang yang variatif disertai keragaman biota lautnya merupakan spot menyelam yang sangat indah.

  2. Sepanjang tubir Keramat/ Baleha. Terumbu karang berbentuk wall dan laut sekitarnya sangat potensial bagi wisata selam.

  3. Dive spot Manaf, keragaman biota laut yang ada didalamnya berupa nudibranch yang sangat variatif juga  menjadi objek wisata menyelam yang potensial.

  4. Beberapa lokasi perairan di Pulau Sula, dengan iklim tropisnya yang lengkap merupakan kawasan potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan Ekowisata Bahari. Dalam hal ini dapat dijadikan sebagai areal budidaya laut untuk komoditi perikanan spesifik, sehingga disamping adanya kegiatan wisata yang bersifat rekreasi biasa maupun rekreasi dengan orientasi pendidikan untuk mengamati keunikan panorama ekosistem bawah laut, seperti hiu dan terumbu karang, juga dapat mengamati aktivitas perikanan dan sekaligus menikmati hasil dari kegiatan usaha perikanan tersebut.

Adanya peluang pengembangan beberapa kawasan wisata bahari, secara nyata akan diikuti oleh sejumlah kegiatan sosial-ekonomi dan budaya yang cukup potensial . Seluruh kegiatan sosial-budaya dan sosial-ekonomi pada kawasan ekowisata tersebut selain akan memberikan dampak cukup penting bagi peningkatan pendapatan bagi masyarakat, juga bisa memberikan retribusi yang cukup memadai bagi Pemda. Melalui berbagai dinas/unit-unit teknis terkait, sesuai tiap kegiatan yang berlangsung pada kawasan wisata bahari dan sekitaranya. Saya melihat potensi di Pulau Sula sangat siap untuk dikembangkan. Dengan karakter masyarakat yang sangat  ramah juga sangat mendukung proses pengembangan wisata daerahnya.

 

Berikut  informasi objek wisata bahari di Pulau Sula :

Pantai Wai Ipa.

Pantai ini terletak di kota Sanana yang memiliki panorama alam dengan karakteristik pantai berpasir hitam dan bebatuan, sangat cocok menjadi tempat rekreasi keluarga pada musim liburan atau hari-hari tertentu, memiliki ombak yang cukup tenang pada musim tertentu dan juga dapat dijadikan sarana olah raga ski air pada musim tertentu. Pantai ini sudah memiliki sarana dan prasarana seperti MCK, restoran/kafe, dan tempat-tempat bersantai sambil menikmati makanan dan minuman khas yaitu Air Guraka dan Pisang Goreng

Pantai Pulau Pagama.

Terletak sebelah timur Pulau Mangoli yang diapit oleh beberapa gugus pulau, antara lain Pulau Mangoli dan Pulau Lifmatola.Pulau Pagama memiliki panorama pantai pasir putih yang sangat indah. Di sepanjang pantai Pulau Pagama terdapat pohon pinus yang tumbuh di pulau dengan luas 450 meter persegi, disamping memiliki panorama bawah laut yang tidak kalah indahnya dengan wilayah lain. Kontur bawah laut berbentuk sloping dan dasar perairan terdiri dari karang keras dan halus dengan kondisi yang masih sangat baik dan indah juga memiliki kecerahan air tinggi mencapai 30 meter. Penyelaman dapat dilakukan pada beberapa titik kordinat diantaranya penyelaman pada titik kordinat: 01.83310oLS, 126.33775oBT dan 01.82374oLS, 126.34470oBT. Biota laut yang ditemui berupa beberapa jenis ikan hias yang memiliki warna yang sangat indah, gerombolan ikan sedang, Moluska, Lobster dan beberapa Tumbuhan Laut. Lokasi dapat di capai dengan menggunakan speed boat  dengan jarak temput 1,5 Jam dari ibu kota Kabupaten.

Tanjung Batu Kapitan.

Terletak di bagian Barat pulau Mangoli, memiliki pantai berbatu karang yang dikombinasikan dengan pasir putih.Profil dasar perairan didominasi pasir dan karang mati berukuran besar yang ditumbuhi algae.Dasar perairan agak landai sepanjang 300 m dari pantai baru mencapai kedalaman 15 m selanjutnya agak terjal dengan kemiringan 70o.Penyelaman dilakukan pada titik 01.94754oLS dan 125.41576oBT. Terdapat gerombolan ikan besar seperti barakuda, bubara, juga ikan kecil, sedang dan penyu.

Pulau Sambiki.

Terletak di sebelah Utara pulau Sanana, memiliki kondisi pantai umumnya berbatu, namun di sebelah Utara terdapat hamparan pasir putih yang indah sebagai tempat wisata.Penyelaman dilakukan pada 2 titik kordinat yakni pertama di bagian Timur pulau titik kordinat 01.94175o LS, 125.78609o BT dan di bagian Utara pulau pada titik 01.94081oLS, 125.78475oBT. Dasar perairan didominasi oleh karang lunak, karang batu, sponge, karang mati yang ditumbuhi alge dan pasir. Terdapat beberapa biota laut yang hidup berasosiasi dengan terumbu seperti : Ikan, Moluska, Ekinodermata, belut dan Krustacea dll.

Pulau Ngofa Nini

Terletak di sebelah Utara pulau Sambiki, berdekatan dengan pulau Mangoli tepatnya di depan desa Paslal. Pantai umumnya berbatu yang langsung digenangi air lau dengan kedalaman sekitar 50 cm, posisi penyelaman pada titik kordinat 01.91376oLS, 125.80748oBT. Profil dasar perairan didominasi oleh karang batu (60%), karang lunak (20%) dan karang mati yang ditumbuhi alge (15%) sehingga memungkinkan biota laut seperti ikan karang, moluska dan krustasea hidup berasosiasi dengan terumbu karang yang memperlihatkan pemandangan yang sangat indah di bawah laut.

Pantai Fukweu dan Wai Santosa

Pantai Fukweu adalah salah satu obyek wisata yang lebih condong kepada wisata traveling, mancing.Pantai ini berhadapan dengan Pulau Mangoli dan beberapa Pulau kecil di depannya dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat yang masih menjunjung tinggi adat istiadat setempat. Terletak di Desa Fukweu Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula. Tidak beberapa jauh dari pantai ini terdapat salah satu sumber Mata Air yang di yakini oleh masyarakat masih menyimpan nilai histori yaitu “Wai Santosa” (Air Santosa).Konon kali ini berasal dari air yang dibawa oleh Sultan Ternate.Disini juga terdapat satu jenis ikan yang konon dipercaya masyarakat sebagai ikan yang dikeramatkan yaitu “Ikan Tukareg”.Ikan tersebut memiliki keunikan tersendiri yang hidupnya berdampingan dengan aktivitas masyarakat di sumber mata air tersebut.Lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda 4/2 dengan jarak tempuh ± 40 menit dari Kota Kabupaten (Sanana).

Selat Capalulu

Obyek wisata selat capalulu mempunyai keunikan tersendir yaitu derasnya arus terkuat nomor 2 di dunia. tempat ini sangat cocok bagi wisatawan yang suka dengan objek wisata ekstrim disamping memiliki pasir putih dengan bebatuan di bibir pantai serta panorama alam bawah laut yang sangat indah dan memukau sehingga mengundang minat para wisatawan yang datang di lokasi untuk diving.  Lokasi ini dapat ditempuh dengan speedboat dengan jarak tempuh ± 3 jam dari Ibukota Kabupaten.

Pantai Tanjung Waka

Adalah obyek wisata yang paling menarik untuk di kunjungi oleh para wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara, tempat ini memiliki pasir putih yang halus dan bersih yang panjangnya 6 km’ memiliki pemandangan yang tak kalah indahnnya seperti sun set, san rise, airbersih yang mengalir dari gunung menuju pantai yang berjatuhan dari atas tebing, serta goa dan tebing yang tinggi, obyek wisata ini juga bisa untuk wisata diving dan snokling karena memiliki alam bawah laut yang sangan indah dan menarik. Pantai tanjung waka terletak di desa Fatkauyon kecamatan Sula Besi Timur yang behadapan dengan pulau Buru. Jarak tmpuh ± 1,5 jam dengan alat transportasi laut sperti speet boat dan juga dengan kenderaan darat beroda dua/empat dengan jarak tempuh ± 2,5 jam dari ibu kota kabupaten.

Pantai Waigoiyofa

Pantai ini terkenal dengan keindahan hamparan lautnya yang memiliki pesona laut yang sangat indah dan bersih.Terletak di Desa Waigoiyofa kecamatan Baleha dengan jarak tempuh ± 1 Jam 20 Menit dari Kota Kabupaten (Sanana).Dengan pantai yang landai dan sudah tertata ditunjang dengan panorama alam yang asri dengan pepohonan yang rindang.Tempat ini sudah di fasilitasi dengan MCK, tempat mandi, dan Gazebo.Sangat cocok untuk tempat piknik dan rekreasi keluarga.

Pantai Mangoli.

Objek Wisata Pantai Mangoli memiliki panorama yang sangat indah, dengan pohon kelapa dan pantai pasir putih yang membentang sepanjang pantai.Terletak di Desa Mangoli Kecamatan Mangoli Tengah.Lokasi ini dapat ditempuh dengan speedboat dengan jarak tempuh ± 20 menit dari Ibukota Kabupaten.

Seminggu di Pulau Sula dengan pengalaman menyelam dilokasi dive spot yang variatif sungguh menjadi pengalama yang takkan terlupakan. Bagi saya sebagai penyelam  Pulau Sula memiliki dive spot yang lengkap. Semoga Pulau Sula dapat menjadi destinasi bahari yang segera berkembang. Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat, yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk di Pulau Sula. Yang tumbuh oleh karena peningkatan kegiatan ekowisatanya. Jika pemerintah dan masayarakat dapat mengembangkan Ekowisata pesisir dan laut, maka akan diperolah tiga manfaat sekaligus, yaitu kelestarian sumberdaya pesisir dan laut terjamin, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan satu bonus tidak perlu mengeluarkan biaya konservasi sumberdaya pesisir dan laut, karena kelestarian sumberdaya akan terjaga dengan sendirinya jika dikelola dengan baik.

Saya berterima kasih kepada  Bapak Kamal dan team di Pulau Sula yang sangat baik hati mensupport  team ini, teman- teman yang super seru yang membuat seminggu terasa singkat sekali. Semoga Sail Sula 2017  dapat menjadi acara yang berkelanjutan dan meningkatkan ekonomi masyarakat secara keseluruhan...AYO MAIN KE SULA!!!

Our Team: Ko Roy, Dedi, Ariawan, Romi, Fandi, Fani, Hasna, Illa, Sisca.

Picture properties by DODOKU DIVE CENTER.

 

DIVER IN ACTION DROWING THE SHIP PELANGI 16 SUKHOI

Pulau Pelangi menjadi lokasi terpilih  untuk acara DIVER IN ACTION DROWING THE SHIP PELANGI 16 SUKHOI. Pulau Pelangi adalah sebuah pulau resort seluas 12 ha dengan jarak 60 km dari Pantai Mutiara, Jakarta. Dan terletak di sebelah timur Pulau Putri. Pulau ini memiliki vegetasi yang rimbun dan pasir putih di sekeliling pantainya. Dari pantainya, kita bisa melihat pulau Putri dan pulau Sepa di sebelah baratnya. Sedangkan pulau Bira terletak di sebelah selatan pulau ini.

Dari tema acaranya saja sudah membuat rasa penasaran. Hari itu  bersama teman-teman GELEMBUNG SAMUDERA kami para diver keceh dan kemshud (kemshud artinya hanya orang tertentu yang mengerti maknanya) mendapat kesempatan untuk menenggelamkan kapal 16 Sukhoi di Pulau Pelangi. Acara ini kerjasama antara  GELEMBUNG SAMUDERA, ZOMBIE MARINE DIVE dan PELANGI ISLAND RESORT. Tepat tanggal 15 oktober dengan diawali doa dan discovery dive didepan dermaga. Selanjutnya acara yang ditunggu-tunggu adalah menenggelamkan kapal SUKHOI. Para penyelam yang berperan penting dalam penenggelaman kapal  dipilih langsung oleh Bp. Wahab . Pagi itu kami diberikan masing-masing tugas, dan langkah-langkah yang harus dilakukan. Tepat pukul 15.46 WIB  kapal berhasil ditenggelamkan dikedalam kurang lebih 20 m, dan dive time saya menunjukkan 37 menit penyelaman untuk melihat posisi kapal setelah prosesi penenggelaman kapal.

Selanjutnya saya melakukan penyelaman ke tiga di malam hari, sensasi berbeda dengan penyelaman di siang hari. Ada adrenalin yang terpacu karena sekeliling kita yang gelap gulita. Dan tentu saja ada berbagai macam makhluk laut yang muncul yang  tidak bisa kita saksikan di siang hari. Pada penyelaman ini, kami dihibur oleh berbagai udang, cacing dan berbagai organisme lain yang tidak saya tahu bentuk dan jenisnya, yang berkumpul di depan senter saya. Sempat pula saya bertemu dengan box fish yang super besar.  Pukul 21.30 kami mengakhiri penyelaman malam hari dengan kedalaman 14 m, dan dive time menunjukkan 57 menit.

Esok harinya, setelah sarapan, kami langsung menyiapkan peralatan lenong kami dan menuju ke lokasi kapal karam  Papa Theo, karena wisata penyelaman bangkai kapal selalu menarik bagi saya. Melihat struktur kapal di dalam laut itu menimbulkan rasa kagum. Melihat ruang-ruang dan bagian bagian kapal yang biasanya kita lihat di atas permukaan dan kini terendam air selalu jadi pemandangan yang unik. Menuju lokasi Papa Theo Ship Wreck  sekitar 15-20 menit dengan speed boat, namun area ini cukup arus dan banyak partikel sehingga jarak pandang rata rata kurang baik. Saat saya turun, jarak pandang hanya sekitar 7-10 meter. Namun, saya bisa melihat bangkai kapal cargo yang masih relatif utuh ini. Kapal ini cukup menarik karena banyaknya coral yang tumbuh di sisi sisi bangkai kapal. Rasanya saya masih merasa kurang mengexplore Papa Theo Ship Wreck. Kemegahan  kapal tersebut dan visibnya yang cukup lumayan untuk ukuran Pulau Seribu  hari itu, membuat saya jatuh cinta. Selanjutnya dive terakhir saya memilih kembali lagi untuk melihat kapal yang ditenggelamkan. Ada rasa penasaran melihat kapal tersebut dengan posisi yang sudah stabil. Mengingat saat  sehari sebelumnya  visib nyaris hanya 1 meter.  Dengan kedalam 21 m dan dive time 45 menit, tepat pukul 11.35 saya mengakhiri penyelaman di Pulau Pelangi.

Dive Trip DIVER IN ACTION DROWING THE SHIP PELANGI 16 SUKHOI  Sebuah pengalaman yang sempurna untuk kami para penyelam. Selain sensasi diving bersama orang-orang yang super seru, kita juga memberi sumbangsing dan support untuk rumah baru para ikan. Semoga ikan-ikan senang dengan rumah barunya yaaa.

Terima kasih teman-teman yang super seru yang namanya ada di banner dan yang tidak ada di banner. Buat buddy sistem yang berjalan dengan baik, walau saya sempat disorientasi dengan buddy dari group yang lain. Terima kasih  GELEMBUNG SAMUDERA terkhusus  Instruktur Eddos yang keceh dan baik hati,  ZOMBIE MARINE DIVE terkhusus  maha guru Bp. Wahab. Bersama kalian kami para penyelam  merasa aman dan nyaman selama dive trip ini. Dan tidak lupa  makanan super enak dan tepat waktu dikala lapar setelah dive dari Pulau Pelangi Resort. Terima kasih sudah menyatukan  kami dalam moment yang super sweet ini. Kami para penyelam  pulang membawa rasa pelangi  dalam  DIVER IN ACTION DROWING THE SHIP PELANGI 16 SUKHOI .

Our Team: Eddos, Wahab, Hafidz, Rendra, Nandra, Sandra, Ningrum, Adi, Ega, Marlene, Randi, Moko, Thox, Kamal, Ikhsan, Audri, Desi, Giri, Donsi, Jessie, Aji, Panji, Wawan, Aya, Agus,

 Picture Properties by Hafidz  and Gelembung Samudera

 

Pulau Buru merupakan salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku. Dengan luas 8.473,2 km², dan panjang garis pantai 427,2 km. Pulau Buru menempati urutan ketiga setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara dan dan Pulau Seram di Maluku Tengah. Secara umum Pulau Buru berupa perbukitan dan pegunungan. Puncak tertinggi mencapai 2.736 m. Pulau ini terkenal sebagai pulau pengasingan bagi para tahanan politik pada zaman pemerintahan Orde Baru.

Pulau Buru menjadi destinasi perjalanan spiritual oktober  saya tahun ini. Tepat pada tanggal kelahiran saya, ada acara Festival Pesona Bupolo 2016. Saya  merasa sepertinya  Pulau Buru merayakan kelahiran saya. Dari Jakarta  memilih penerbangan paling malam dan sampai di Pattimura International Airport, ketika matahari terbit membuat moment ultah  ke-17 (hahahaha)  tahun  ini begitu sempurna. Tiba di Pattimura International Airport saya sudah dijemput oleh panitia Festival Bupolo 2016. Perjalanan ke Pulau Buru dilanjutkan dengan menggunakan kapal  Fery yang cukup besar dan nyaman, dengan lama perjalanan sekitar 6 jam. Menunggu kapal yang berangkat pukul 16.00. Kami berisirahat di kota Ambon sambil  mengexplore kota tersebut.

Pulau Buru sangat tenang dan sejuk menyambut kedatangan kami hari itu,  alamnya yang indah, tanahnya yang subur, pantainya cantik, dan bawah lautnya sangat menarik. Di pulau yang dirimbuni pohon-pohon minyak kayu putih itu pula, seorang pujangga, sastrawan favorite saya,  Pramoedya Ananta Toer dibuang karena ketajaman karya-karya sastranya. Kini Pulau itu telah menjadi kabupaten di Propinsi Maluku.

Melihat secara langsung keindahan terumbu karang dan ikan-ikan yang penuh warna di kedalaman laut menjadi suatu pengalaman tersendiri bagi saya selama beberapa kali melakukan penyelaman di Pulau Buru. Yang setiap penyelaman memiliki pengalamannya masing - masing. Tanggal 9 oktober 2016 tepat Pukul 9.00 WIT  bersama DODOKU DIVE CENTER kami memulai penyelaman pertama di spot Jikumerasa -1. Dengan waktu penyelaman rata-rata selama 52 menit. Terumbu karang yang padat, sehat, dan berwana-warni. Ikan pelagis memang jarang ditemukan tapi berbagai ikan cantik, yang saya tidak hapal satu persatu namanya membuat penyelaman hari pertama cukup berkesan. Rasanya tabung nitrogen yang berisi 300 bar terasa terlalu sedikit. Waktu penyelaman yang kurang lebih satu jam rasanya terlalu cepat.

Hari kedua kami melakukan penyelaman di daerah Waprea. Dive 1 Tanjung Laibasa, dan dive ke 2 Tanjung Batunuhan. Waprea menjadi sangat sempurna karena setelah menyelam ada air terjun yang sangat menyegarkan untuk membersihkan badan setelah menyelam. Ketika surface interval, kami yang saat itu beristirahat menunggu penyelaman ke 2, mulai berinteraksi dengan anak-anak dan para warga masyarakat setempat. Mereka sudah menyadari arti pentingnya menjaga lingkungan. Bahkan mereka memiliki kolam untuk membantu para penyu bertelur dan melepaskan tukik bila dianggap sudah sanggup untuk bertahan dilaut.

Titik-titik penyelaman di Pulau Buru masih dalam proses eksplorasi secara berkelanjutan oleh teman-teman penyelam DODOKU DIVE CENTER. Mereka adalah komunitas generasi  muda yang penuh semangat  didunia penyelaman, multi talenta dibidang underwater photography,  memiliki semangat dan energi untuk memajukan dunia bawah laut negri ini. Saya sangat bersyukur bertemu dengan mereka dalam Festival Bupolo 2016 ini.

Semoga pemerintah daerah mendukung program explorasi wisata bawah laut Pulau Buru. Karena Pulau Buru memiliki bukit Tatanggo yang indah, Danau Rana yang cantik, serta  garis pantai yang membentang panjang,  juga lahan yang luar biasa subur.

Pulau Buru adalah salah satu dari sekian banyaknya pulau di Indonesia yang perlu kita kumandangkan keindahannya. Karena memiliki daratan  dan  potensi kelautan, terlebih lagi secara khusus adalah pulau yang sebenarnya saksi dari perjalanan sejarah politik tanah air tercinta.

Jika kita berpikir secara umum pemanfaatan kekayaan laut Indonesia secara maksimal dapat meningkatkan pendapatan para nelayan dan meningkatkan devisa negara. Keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini seharusnya memacu kita untuk lebih berpikir kritis. Ditambah lagi alat-alat modern ramah lingkungan dapat menjadi salah-satu pilihan alternatif nelayan untuk mencari nafkah tanpa merusak ekosistem bawah laut, seperti curahan hati para nelayan di Waprea. Sehingga kita dapat  mewujudkan lingkungan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil yang bersih dan lestari.

Pulau Buru memang terlalu sempurna... mulai dari bukit, danau, pantai berpasir putih dan lembut, dunia bawah lautnya yang cantik. Membuat perjalanan spiritual oktober saya tahun ini menjadi kenangan terindah yang takkan terlupakan. Jaaadiiiiii tunggu apalagi...AYO MAIN KE BURU!!!

Our Team: Ko Roy, Ariawan, Neo, Dedi, Romi, Fandi, Fani, Hasna, Ella, Sisca, Ahmad, Ichan/Keci, Aldi, Sadam, Fuad, Andex, Demas, Ongen, Yadin.

Picture properties by DODOKU DIVE CENTER.

 

Menyempurnakan perjalanan di Sulawesi Selatan saya tutup dengan  menikmati vitamin "sea". Sampai di Tanjung Bira di sore hari saya mendapatkan sunset yang indah dari depan hotel. Pulau Kambing terlihat dengan sangat jelas. Lalu pagi harinya saya menuju ke Pulau Kambing. Cuaca saat itu cerah, langit yang indah disambut oleh birunya laut. Menurut informasi dari kapten kapal bulan  agustus adalah saatnya pergantian musim. Setelah 10 menit perjalanan dilaut  angin berhembus sangat kencang, dan ombak mulai menghempaskan kapal. Ada rasa khawatir yang amat sangat, karena ketinggian ombak  mulai tidak normal. Saya langsung mengambil life jacket. Semua jenis doa saya panjatkan, jujur ini ombak pertama yang pernah membuat saya getir. Tapi melihat wajah si kapten kapal yang cukup tenang rasa khwatir kadang hilang sejenak dan timbul kembali dengan melihat terjangan ombak yang mencapai 4 meter lebih. Setelah satu jam terombang-ambing, yang  normalnya 30 menit akhirnya kapal mendarat di Pulau Kambing. Semua rasa getir tadi mendadak hilang begitu saja , layaknya si Dory di Finding Nemo yang short term memory loss.

Hingga saat ini, sejujurnya masih penasaran kenapa Pulau ini dinamakan Pulau Kambing? Mau dilihat dari arah manapun sambil berdiri atau head stand, bentuk pulaunya tidak menyerupai kambing, selain itu juga tidak terlihat apalagi terdengar sama sekali adanya suara kambing.

Ekosistem laut di Pulau Kambing sangat beragam. Praktis belum ada kerusakan berarti. Visibility yang sangat mendukung menjadikan tempat ini memiliki beberapa spot diving. Bahkan menurut Bp. Djafar  sang  dive guide,  semua jenis ikan laut tropis lengkap di Pulau Kambing. Saya bertemu banyak parrot fish, tapi di wall  dive spot saya kurang beruntung karena tidak bertemu dengan sicantik Shark. Mungkin ini menjadi alasan untuk  kembali.

Selanjutnya saya bertolak ke Pulau Liukang Loe. Konon kata Liukang Loe berasal dari Bahasa Konjo. Menurut Wikipedia, bahasa Konjo dimasukkan ke dalam rumpun  bahasa Makassar, dalam kelompok Sulawesi Selatan dari cabang Melayu-Polinesia rumpun bahasa  Austronesia.  Liukang artinya Kayu Hitam, sedangkan Loe bermakna banyak. Jadi arti harfiahnya, Pulau yang mempunyai banyak kayu hitam. Pulau Liukang Loe memiliki luas sekitar 5,7 km2 dan dihuni sekitar 300 kepala keluarga yang tersebar di dua kampung, yakni Kampung Buntutuleng dan Passilohe.

Sementara menunggu makan siang dihidangkan, saya melihat-lihat sedikit kondisi perkampungan di pulau ini. Sepengamatan saya, seluruh permukaan daratan disini tertutup pasir putih. Rumah-rumah panggung mayoritas terbuat dari kayu. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertiup angin yang menyejukkan. Jalan-jalan kecil dibuat dengan campuran pasir dan semen meliuk membelah kampung. Suasana pulau ini begitu tenang, destinasi yang sempurna bagi yang ingin jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Dan yang membuat saya terpukau di pulau Liukang Loe adalah koneksi internet yang super cepat. Saya bahkan bisa meremote pekerjaan dan konek ke server kantor.

Mengamati koneksi internet yang cukup stabil di Liukang Loe.  Saya berharap penduduknya  lebih mampu mengemas suatu produk menjadi lebih modern. Ini dapat menjadi salah satu penunjang meningkatnya perekonomian di daerah tersebut, misalnya jika cendramata dibuat menjadi lebih kreatif dan menarik. Sehingga dapat meningkatkan daya beli konsumen. Ikan asin dapat dikemas dalam bentuk yang jauh lebih higienis dan menarik, sehingga penghasilan warga sekitar meningkat. Bukan hanya mampu bersaing dipasar lokal bahkan mereka  akan mampu bersaing dipasar dunia.

Berusaha mengenal kehidupan sehari-hari di pulau ini. Saya melakukan interaksi kepada anak Ibu pemilik warung. Dimana dia sekolah, pelajaran apa yang dia sukai, dan apa cita-citanya. Dia bercerita bahwa disekolah gurunya sering tidak  masuk. Bahkan dia tidak mampu menjawab tentang cita-citanya. Ditinjau dari segi pendidikan ini sangat memprihatikan. Sebaiknya pemerintah setempat lebih memperhatikan pendidikan dan masa depan anak-anak di Liukang Loe, masih sangat jauh dari kata layak. Bahkan banyak anak-anak yang putus sekolah begitu saja karena kurangnya biaya untuk bersekolah. Dan masih banyaknya pemikiran dari orang tua mereka bahwa pendidikan itu tidak penting, menurut mereka jika memang anak tersebut sudah mampu melaut itu sudah cukup.

Berkunjung ke Pulau  Kambing dan Liukang Loe di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan  menjadi pilihan yang sangat sempurna untuk bersembunyi. Pulau ini sangat tenang, saya sangat menikmati pantai, laut, dan alam bawah lautnya  yang eksotis.