Ramang-ramang adalah  salah satu  kawasan karst Maros-Pangkep yang memiliki pemandangan alam yang cukup menarik untuk dikunjungi. Berada di kabupaten Maros, dusun ini dapat ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari kota Makassar. Perkampungan yang terletak di tengah gugusan karst   ini  menyimpan   kekayaan pengetahuan yang tak ternilai, mulai dari pemandangan alam yang sangat indah, adat istiadat, serta kearifan dan kesederhanaan para penduduknya. Arti kata Rammang-Rammang sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yaitu Bahasa Makassar, di mana kata rammang yang bisa diartikan sebagai awan atau kabut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa arti kata rammang-rammang adalah sekumpulan awan atau kabut. Menurut cerita penduduk setempat, tempat ini diberi nama Rammang-Rammang dikarenakan awan atau kabut yang selalu turun terutama di pagi hari atau ketika hujan.

Suhu siang itu sangat panas tapi  semangat  menyusuri sungai Puthe dan memandang gunung-gunung karst membuat suhu panas bukan lagi menjadi  masalah yang berarti. Pulang liburan kulit tidak menghitam rasanya kurang lengkap, bukan? Lebih dalam  lagi  memasuki wilayah ramang-ramang, kita akan bertemu sebuah aliran sungai yang tenang. Berselisih dijalan dengan beberapa perahu  sekaligus melihat  aktivitas penduduk setempat. Di daerah Maros ini banyak sekali goa, karena memiliki banyak tebing yang menjulang. Landscape seperti ini mengingatkan kita  pada landscape daerah Krabi di Thailand versi lautnya. Tapi ternyata landscape di Maros jauh lebih memukau dan sarat dengan peninggalan zaman purbakala. Konon katanya Ramang- ramang termasuk keajaiban alam di dunia karena merupakan pegunungan kapur terbesar di dunia setelah pegunungan karst Yunnan di Cina Selatan.


Dengan demikian, untuk menjaga  anugrah alam di Ramang- ramang, kiranya  segala elemen masyarakat Maros dan pengunjung dapat tetap menjaga kelestarian serta keseimbangan alamnya. Sebab, sebagaimana diketahui masyarakat sekitar menjadikan karts diwilayah tersebut sebagai penopang kehidupan (tambang).  Ketika tidak ada solusi dan pencegahan maka wisata alam tersebut kemungkinan besar lambat laun akan punah. Tentu kita menginginkan pemandangan indah di Ramang- ramang  bisa dinikmati sepanjang waktu dari generasi  ke generasi. 

 

 

Semua pasti setuju bahwa mengejar ritual sunrise adalah sesuatu yang super seru. Memang tidak ada garansinya kita pasti  mendapatkan sunrise yang indah. Tapi kegiatan memburu sunrise dari ketinggian memang layak untuk diperjuangkan. Ketika berada di Toraja dan mendengar destinasi baru ini, kami memohon kepada supir pribadi yang baik hati agar tidak melewatkan  Lolai, negri diatas awannya kota Toraja.

Gunung Lolai adalah  juga tempat permukiman warga. Dan lokasi ini menjadi sangat indah dipagi hari  karena diselubungi awan-awan. Dari ketinggian kita bisa melihat beberapa tongkonan yang berada di lembah-lembah. Di kalangan masyarakat Toraja sendiri banyak yang belum mengetahui tempat wisata baru ini. Saya sendiri tertarik karena informasi dari teman-teman. Lolai memang  baru terkenal beberapa bulan ini efek dari arus  sosial media. Yang katanya  istagramable banget.

Ketika menghangatkan badan di warung kopi, dari si ibu pemilik warung. Ia mengatakan, sejarah ditemukannya Lolai awal mulanya hanya untuk konsumsi pribadi sebagai tempat rumah tongkonan keluarga, bukan untuk wisata. Lalu setelah pemugaran, dilakukan upacara atau dikenal dengan nama  ma’bua’. Pihak keluarga  pemilik tongkonan mengundang beberapa fotografer meliput. Dan setelah acara tersebut para fotografer mengupload pada berbagai sosial media, sehingga tempat ini mendadak terkenal.  Mari berterima kasih pada kekuatan sosial media. Ditambah setelah dilakukan penelitian oleh team paralayang dari Palu. Ternyata angin di sekitar lembah Lolai  sangat mendukung untuk kegiatan paralayang.

Menanti matahari terbit memang sebuah sensasi yang luar biasa, saat menyaksikan hamparan awan secara perlahan naik dari daratan rendah hingga ke Lolai. Seolah kaki kita menginjak awan yang berada seperti di posisi yang sama. Berada di ketinggian 1300 Mdpl, saya melihat keindahan 2 kabupaten kembar yakni Tana Toraja dan Toraja Utara yang diapit Gunung Sesean. Menikmati hamparan pemukiman, gunung - gunung dan lembah, serta hamparan awan yang sungguh eksotis. Lolai memang berada di gugusan pengunungan dengan panorama yang sangat indah. Dari Rantepao, lokasi wisata baru ini bisa dijangkau sekitar 30 menit dengan berkendara.

Sunrise di  puncak Lolai menyuguhkan kesempurnaannya  pagi itu. Suatu karya agung Sang Pencipta yang sungguh luar biasa dan eksotis. Oleh karena itu kiranya kita sang penikmat alam memiliki  kesadaran untuk menjaga dan melestarikannya. Bagi pengunjung semoga mampu   untuk terus menjaga kebersihan  dengan  tidak membuang sampah sembarangan. Jadilah pengunjung yang bijak. Nikmati keindahan alamnya, namun jangan meninggalkan sampah.

 

 

 

Taman Prasejarah Leang-Leang Pettakere terletak di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya gua. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.

Hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya lukisan-lukisan dinding pada goa-goa. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu seperti apa kehidupan manusia prasejarah. Siapa sangka, Indonesia menyimpan salah satu karya seni tertua di dunia. Menurut informasinya dulu lukisan gua tertua didunia yang pernah ditemukan berada di Eropa. Namun pada tahun 2014 lalu para arkeolog menyatakan kalau lukisan gua yang ada di Leang Pattakere beberapa ribu tahun lebih tua, karena  lukisan tangan di Leang Pattakere, memiliki usia minimal 40.000 tahun.

Saya mengamati lukisan tangan tersebut  didominasi warna merah. Diperkirakan pewarna yang digunakan terbuat dari bahan alami yang dapat meresap hingga ke dalam pori-pori batu,  dan dapat bertahan hingga ribuan tahun. Panorama alam objek wisata ini pun sungguh menawan. Gugusan tebing batu dengan bentuk yang khas dan unik serta gunung-gunung batu yang kokoh menjulang menampilkan panorama khas landscape karst. Selain menambah pengetahuan tentang peradaban manusia purba, berbagai aktivitas pun dapat di lakukan di sini. Karena hawa udaranya sejuk walaupun suhu siang itu terasa sangat panas.

Dalam perjalanan sambil mendengar penjelasan guide saya berpikir, mungkinkah sejarahnya bahwa peradaban dinegri ini jauh lebih tinggi dibandingkan bangsa lain. Saya kagum dengan mahakarya alam yang disuguhkan  Leang Pattakere. Dengan hamparan batu-batu hitam yang seperti dipahat membuat semakin larut dalam keindahan mahakarya sang pencipta. Menurut guide yang menemani kami, menurut sejarah kemungkinan daratan disini adalah lautan. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya tiram dan batu laut  dengan bentuk kecil di sela-sela dinding  karst.

Tugas kita bersama sebagai warga negara yang baik untuk terus menjaga tempat bersejarah. Dan semoga kegiatan ekowisata dapat meningkatkan aksi konservasi bagi penduduk sekitar. Yaitu dengan menunjukkan daerah-daerah alam yang penting, sekaligus mendapatkan pemasukan dari wisatawan. Dengan demikian, ekowisata merupakan sumber peluang kerja dan mampu menjadi pendapatan yang cukup mewakili masyarakat sekitar. Sehingga warga disekitarnya  menjadi bagian dari cagar alam itu sendiri. Karena proses  mencegah praktik-praktik yang merusak benda-benda bersejarah sudah seharusnya bersinergi dengan warga disekitarnya.

Berikut saya lampirkan link  untuk menambah  informasi mengenai Leang Pattakere

https://www.youtube.com/watch?v=ZVEqkVDn6Y4

 

 

Senang rasanya ada kesempatan untuk  mengenal budaya yang unik dan belum pernah didatangi. Dan kota indah nan unik itu adalah Tana Toraja. Tana Toraja terletak dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya kurang lebih 328 km dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar. Tana Toraja masuk ke dalam area pegunungan bagian tengah dengan ketinggian 300 - 2880 Mdpl. Tempat ini memadukan kesegaran dan kesejukan. Suhu udara yang berkisar 16 s.d 28 derajat Celcius. Sawah-sawah terasering hijau, tumbuh-tumbuhan dan rumpun-rumpun bambu dilatarbelakangi oleh gugusan karst serta dibawah atap birunya langit. Dan tongkonan, yang merupakan rumah-rumah tradisional Tana Toraja, menyajikan komposisi yang indah melengkapi pemandangan mahadahsyat.

Beruntungnya saya mendapatkan teman-teman yang  memiliki ketertarikan dengan budaya, dan guide lokal yang profesional namanya Bp. Iyus. Beliau mampu menjelaskan seluruh budaya Toraja. Menurutnya ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan orang Toraja. Semua anggota keluarga diharuskan ikut serta dalam ritual yang berhubungan dengan tongkonan sebab hal ini melambangkan sebuah hubungan lintas dimensi antara orang hidup dan yang telah meninggal. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar. Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar.

Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat pemerintahan. Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal. Tongkonan batu adalah untuk anggota keluarga biasa. Dalam perjalanan pulang bersama Bp. Iyus, saya mengatakan ada dibagian tertentu saya merasakan kemiripan budaya Toraja dengan suku batak. Dan saya terkejut ketika beliau  membenarkan pendapat saya. Memang menurut sejarah, ada persamaan antara suku Batak dan Toraja. Masyarakat suku Toraja, Sulawesi Selatan, diduga kuat merupakan satu rumpun dengan masyarakat di daerah Nias dan Batak. Ketiga suku masih mempertahankan jejak megalitik yang sama berupa batu-batu besar pelengkap ritual adat, kesamaan filosofi budaya, dan arsitektur. Menurut sejarah, suku Toraja, Nias, dan Batak sama-sama keturunan penutur Austronesia. Setelah bermigrasi ke Nusantara, 4.000-an tahun lalu, penutur Austronesia memisahkan diri ke berbagai tempat.

Upacara pemakaman

Upacara pemakaman orang Toraja merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Keluarga bangsawan berhak menggelar pesta pemakaman yang sangat  besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah. Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.

Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya. Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam masa tertidur. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diiringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Londa

Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Tempat ini terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao.

Ke’te Kesu

Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja buah tangan. Tempat ini terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.

Lemo

Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo, kita dapat melihat mayat yang disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti melalui upacara Ma’ Nene. Cara pemakaman dan perlakuan yang berbeda terhadap orang Toraja yang meninggal ini merupakan hal yang unik dan tidak biasa.

Desa Kambira

Suku Toraja rupanya juga memiliki tata cara tersendiri dalam hal pemakaman bagi bayi. Bila kalangan dewasa lebih banyak dimakamkan di tebing tinggi atau di dalam gua, tidak demikian halnya bagi bayi. Hal itu terbukti saat di Desa Kambira, dimana terdapat passiliran atau makam yang dikhususkan untuk bayi.  Dalam kepercayaan kuno Toraja, bayi yang meninggal dimakamkan dengan cara tertentu, yakni dimasukkan ke dalam batang utama pohon. tapi pohon yang digunakan bukan pohon sembarangan, melainkan pohon Tarra. Pohon ini dipilih karena mengandung banyak getah. Oleh masyarakat Toraja, getah pohon Tarra dipercaya sebagai pengganti susu sang ibu, sehingga membuat bayi akan serasa kembali ke rahim ibunya. Hal ini juga dipercaya dapat menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir di kemudian hari. Tapi, rupanya tidak semua bayi bisa dimakamkan di pohon ini. Sebab bayi dimakamkan di sini adalah bayi yang belum memiliki gigi ketika meninggal. Pohon Tarra yang ada di Kambira cukup besar, dengan diameter 80 hingga 300 sentimeter. Di sepanjang batang utamanya terdapat lubang-lubang yang ditutupi dengan ijuk, yang bersusun hingga bagian atas.

Selesai menikmati tempat-tempat yang cukup penting di Tana Toraja kami melanjutkan dengan  acara kopi sore. Kita tahu bahwa Toraja juga terkenal dengan kopinya hingga ke mancanegara. Sambil menikmati hujan yang cukup deras sore itu,  Bp. Iyus  masih bersemangat menjelaskan filosofi kopi toraja dan keunikan budayanya.

Saya banyak belajar dari sebuah kearifan lokal di Tana Toraja. Bahkan saya mendapat informasi mengenai suku saya sendiri justru dalam perjalanan belajar mengenai suku lain. Di Tana Toraja saya belajar bagaimana kematian bisa dipandang menjadi sebuah pesta sukacita. Melalui kematian, orang diajak untuk merenungi kehidupan. Sebuah jejak peradaban yang layak untuk mendapat apresiasi. Betapa negeri ini menyimpan pesona yang sudah seharusnya menggerakkan rasa bangga dan cinta pada tanah air. Tepat dimomentum 71 HUT RI saya berada disana. Dan saya bangga menjadi bagian dari negri tercinta ini.

 

 

 

 

 

Air terjun Tumpak Sewu  menjadi destinasi yang ingin saya check list setelah saya mengunjungi  air terjun Madakaripura beberapa bulan yang lalu. Sehingga ketika ada rencana untuk mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, air terjun Tumpak Sewu menjadi tujuan pertama begitu tiba di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Air terjun Tumpak sewu yang tingginya sekitar 180 meter ini berasal dari sungai besar yang mengaliri lereng Gunung Semeru. Kawasan air terjun ini memiliki ciri khas kantung-kantung kars yang tinggi . Kars disini membentuk formasi aneh, menyerupai ribuan bulatan-bulatan batu  sebesar bola tenis dan lebih kecil lagi, berwarna kuning-cokelat muda karena pengotoran. Akses menuju lokasi desa  terbilang cukup mudah. Letaknya tepat dipinggir jalan antar kota dalam propinsi. Tepatnya di Desa Sidomulyo, Pronojiwo, Lumajang yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Ampelgading, Malang.


Pengelola air terjun Tumpak Sewu menurut saya cukup cerdas. Adanya spot pemandangan untuk melihat keseluruhan air terjun membuat kita menjadi termotivasi untuk menemui keindahannya dan merasakan langsung dari dekat. Saya super duper exited untuk mengikuti jalur yang ada, agar tiba ke lokasi air terjun Tumpak Sewu sebelum hari gelap. Perjalanan  untuk menuju air terjun Tumpak Sewu memang   cukup berat. Beberapakali  menyebrangi sungai kecil, naik turun lembah yang cukup curam, dan jembatan bambu yang kadang-kadang membuat kita berpikir bahwa jembatan tersebut terlalu ringkih. Dan sepertinya tidak terlalu  kuat untuk menanggung berat beban kita.

Dalam imajinasi saya air terjun Tumpak Sewu seperti membentuk  komposisi struktural 3D yang sempurna indahnya. Dari kejauhan terlihat tebing nirwana yang melingkupi sekelumit surga yang tersembunyi. Terpikir pula bahwa ternyata tempat ini, terkepung air dari berbagai sisi, membayangkan kalau banjir lahar dingin semeru menerpa. Bebatuan besar mengalir bersama alirannya dan jatuh didasar jurang. Perjalanan yang kadang tertutup tembok kars yang tinggi dan penuh dengan pemandangan yang mengejutkan membuat perjalanan ini serasa sedang bersama Indiana Jones di film-film nya.

Akhirnya saya akui perjalanan ke air terjun Tumpak Sewu memang melelahkan namum juga menyenangkan. Tebing-tebing yang curam dan bebatuan yang licin karena berlumut  memang sedikit menegangkan. Debit air yang sangat deras  dari ketinggian sungguh pemandangan yang sempurna. Pengorbanan dan perjuangan  terobati dengan pemandangan yang begitu indah dan eksotik.

Wisata ini cocok untuk mereka yang suka dengan petualangan. Saya sarankan jika ingin berkunjung agar  memperhatikan cuaca dan memakai peralatan dan perlengkapan yang sesuai.  Datanglah pada musim kemarau karena pada musim hujan sepertinya sangat berbahaya.