Setelah 10 tahun lebih, akhirnya saya kembali datang  ke  Taman Nasional Semeru. Perbedaannya perjalanan kali ini  bukan lagi obsesi menggapai puncak Mahameru. Tapi  hanya keinginan untuk mencoba kemampuan diri sendiri dan meracuni teman-teman saya yang sebenarnya adalah pecinta laut dan penyelam. Dan tentu saja  untuk merasakan kembali sensasi mendaki  gunung dan menikmati alam dari ketinggian.

Berada di ketinggian 2400 Mdpl. Sumber air dengan luas kurang lebih 14 Hektar. Ranu Kumbolo ini merupakan salah satu dari beberapa telaga air yang terdapat di gunung Semeru. Ada Ranu Pani, Ranu Regulo dan Ranu Kumbolo. Ranu sendiri berarti telaga. Sedangkan Kumbolo ini mungkin dari gunung Regulo, gunung dari jajaran gunung Bromo Tengger Semeru sebelum ke puncak Mahameru. Untuk mencapai Ranu Kumbolo harus menempuh waktu 4-5 jam perjalanan dari Desa Ranu Pani. Desa yang menjadi basecamp pendakian. Beberapa syarat dan administrasi harus ditempuh untuk memasuki Taman Nasional Semeru. Ada sedikit saran yang ingin saya sampaikan dan  semoga   menjadi perbaikan untuk pengelola Taman Nasional Semeru. Dalam sesi perijinan sudah cukup baik, saya sangat menghargai itu. Memberi sesi briefing atau mungkin wejangan bagi para pendaki. Tetapi ada baiknya disampaikan secara sistematis. Tidak dengan cara seperti berdongeng, atau terkesan menakut-nakuti pendaki. Sampaikanlah secara bijaksana dan tidak terkesan membuang-buang waktu. Menurut saya 30 menit sudah cukup apabila disampaikan dengan cara yang tepat. Seperti informasi jalur pendakian, suhu selama berada dilokasi dan LARANGAN MEMBUANG SAMPAH.

Tepat pukul 13.00 saya bersama 4 sahabat saya yang posesip, memulai pendakian didampingi 1 orang guide. Setelah menempuh perjalanan 4 jam yang cukup melelahkan, akhirnya kami disuguhi pemandangan indah sebuah danau dengan air kebiruan yang dikelilingi oleh bukit - bukit yang indah. Rasanya rasa capek selama perjalanan sebanding dengan keindahan danau yang berada pada ketinggian 2.400 meter dari permukaan laut tersebut. Tidak heran jika masa kuliah dulu, saya sering bolak-balik kesini. Bahkan setelah 10 tahun saya masih memiliki keinginan untuk datang kembali. Saya bersyukur, Tuhan memberikan saya kesehatan dan waktu untuk menikmati semua ini. Ketika kami sampai, suasana di Ranu Kumbolo tidak terlalu banyak pendaki, kapasitas jumlah tenda  tidak terlalu mengganggu ketenangan Ranu Kumbolo.

Pagi adalah suasana terindah di Ranu Kumbolo. Bukit yang diselimuti padang rumput dan tumbuhan perdu, air danau yang jernih, udara yang segar tanpa polusi. Sungguh besar kuasa-Nya dalam menciptakan langit, bumi dan seisinya. Kehidupan pagi disini dimulai dengan ritual yang begitu indah. Dingin menusuk, kabut bergulung di atas danau. Sesaat kemudian, mentari mulai muncul dari balik bukit. Memancarkan serpihan cahaya ke sekeliling lembah. Tidak lupa saya beberapa saat mengisi waktu dengan sesi yoga bersama komunitas yang hari itu  memberikan kelas yoga secara terbuka sambil  menikmati kedamaian Ranu Kumbolo. Sungguh gabungan  alam dan suasana yang sempurna.

Selama ini saya sedikit skeptis dengan berita mengenai Taman Nasional Semeru yang sudah rusak. Tetapi melihat keadaan saat ini sepertinya sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh pengelola Taman Nasional Semeru. Walaupun menjaga kebersihan dan perbaikan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah kita secara bersama-sama dan berkesinambungan. Kita memang membutuhkan suasana seperti di Ranu Kumbolo. Kapan lagi bisa bersama teman-teman yang tangannya tidak sibuk untuk geser-geser dan pencet-pencet layar ponsel. Kapan lagi aman dari telpon nomor yang tidak dikenal yang setelah diangkat ternyata marketing kartu kredit atau asuransi. Kapan lagi aman dari gangguan email, twitter, path atau facebook. Dibalik itu semua, tempat ini adalah salah satu tempat yang membuat kita bersyukur, membuat kita tersenyum, membuat kita lebih menghargai hidup ini. Dan bersyukur Indonesia memiliki keindahan seperti Taman Nasional Semeru.

Semakin banyak manusia yang berkunjung kesuatu tempat, maka semakin terancamlah tempat tersebut. Tetapi kita sebagai manusia kiranya  dapat menjaga kelestariannya. Juga taat akan peraturan dari pihak pengelola. Semoga kesadaran akan kebersihan dan kelestarian alam dikomunitas para pendaki gunung semakin tinggi dan   bersinergi dengan pengelola Taman Nasional Semeru.

Akhirnya terima kasih Mahameru untuk keindahan dan kedamainmu. Saya akan kembali lagi, bersama dua malaikat kecilku.

 

 

 

 

 

Pulau Pari masih terletak di daerah gugusan Kepulauan Seribu Jakarta. Pulau Pari adalah wilayah yang diperuntukan bagi kelestarian hayati dan penelitian di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI. Di Pulau Pari terdapat sebuah pantai yang terletak di sebelah utara. Struktur pantainya sangat menarik karena bentuknya yang panjang dan berkelok-kelok dengan pasir yang berwarna putih dan lembut. Terlebih lagi view dari bibir pantai ke arah laut terdapat hutan-hutan bakau yang rindang, sehingga suasana di pantai Pulau Pari juga  sangat indah.

Tiba di dermaga 17 Marina Ancol saya dan teman-teman Gelembung Samudera berencana  melakukan penyelaman ke Wreck Sinta. Konon kabarnya  Wreck Sinta adalah  kapal pengangkut beras yang terbalik di Pulau Pari. Dari Pulau Pari perjalanan dengan kapal ke lokasi dive spot sekitar 30 menit.  Kami dibagi menjadi 2 group. Tepat pukul 11.30 kami melakukan penyelaman pertama. Visibility yang sangat terbatas dan Wreck Sinta berada di posisi blue water membuat kepercayaan diri saya berkurang.  Rasa yang tidak terlalu nyaman dan  arus  saat itu juga cukup kencang membuat saya tidak ingin berlama-lama. Tapi berbeda dengan dive spot ke-2 di dive spot APL. Arus saat itu tidak sekuat dive pertama. Tapi visibility tetap sangat terbatas. Ikan-ikan sangat banyak tapi visibility membuat lagi-lagi kurang nyaman.

Saya memang merasa jauh lebih nyaman apabila masih bisa melihat dengan dekat buddy saya. Melihat  buddy dengan jarak dekat memang  akan membawa ketenangan. Apalagi dengan buddy yang membuat merasa aman. Called "My Best Buddy".

Tapi akhirnya apapun teori buddy sistem. Sebagai seorang diver, ketika memutuskan turun kebawah laut  dan melakukan penyelaman harus sudah siap dengan kondisi apapun. Jika sedang terpisah dengan buddy, lebih baik mencari pegangan batu besar atau benda apapun yang statik dan tidak bergerak. Jika tidak ada pegangan karena sedang hovering di blue water, saran dari seorang teman katanya fokuskan pandangan mata ke depth & pressure gauge. Memandang blue water tanpa reference fokus, bisa membuat rasanya  lebih tidak nyaman, apalagi jika air banyak mengandung  partikel halus, kepalapun  tambah  pusing.

Jadi saya mengingat teori yang pernah saya baca dalam kondisi seperti itu. Tarik nafas yang dalam dan tenang, atur breathing dengan baik sampai ketenangan tercapai. Karena rasa takut atau tidak nyaman hampir selalu memacu detak jantung yang lebih cepat. Nafas seperti meditasi akan menurunkan detak jantung dan membawa effek comfort dan ketenangan. Ini yang paling penting. Tenangkan diri dulu, baru do what you need to do next.

A bad day of scuba diving is still better than a good day at work.

 

 

Terletak  dekat garis khatulistiwa, saya memutuskan bahwa Palu akan menjadi tempat pilihan saya untuk mengamati gerhana matahari. Banyak wisatawan asing memilih Palu sebagai lokasi untuk menikmati gerhana matahari total. Bahkan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla juga  menyaksikan gerhana matahari secara langsung di Kota Palu. Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie hari itu dipenuhi turis asing. Rasanya  seperti  Palu rasa Bali.

Gerhana matahari total adalah fenomena alam biasa. Menjadi langka dan istimewa karena tidak semua wilayah Bumi dapat menyaksikannya. Rata-rata, gerhana matahari total bisa disaksikan sekali dalam 375 tahun di titik yang sama di muka Bumi. Dan ketika hari yang ditunggu- tunggu itu melawati negeri tercinta ini, 3 bulan saya melakukan persiapan agar moment ini tidak terlewat begitu saja.

Alasan saya berburu gerhana matahari total selain karena gagal menjadi astronot, saya ingin menyaksikan dan merasakan sensasi perubahan suasana saat piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Dan sekaligus melepaskan hasrat berkelana dengan dive trip. Palu sudah pasti menjadi kota pilihan yang paling tepat untuk semua keinginan diatas. Selain karena semua alasan itu, saya juga harus berkoordinasi dengan teman- teman Palu untuk project Rumah Baca Anak Pesisir.

Hari itu saya bangun pukul 06.00 untuk melihat keadaan langit, dan berdoa pagi di dermaga. Untunglah  matahari bersinar dengan sempurna, sedikit berawan tapi masih cenderung cerah. Parigi Moutong Dive Resort memang sempurna untuk menyaksikan prosesi gerhana matahari total. Didepan kamar saya langsung menghadap spot sunrise, dan dibelakang kamar meghadap ke gunung untuk spot sunset. Tepat pukul 08.38:45.8 WITA saya  menyaksikan keajaiban Tuhan atas bumi ini. Sukar dijelaskan bagaimana rasanya melihat gerhana matahari total. Ada rasa puas dan beruntung karena bisa menyaksikan fenomena alam yang langka. Saat totalitas gerhana matahari berlangsung, suasana berubah gelap, korona Matahari pun terlihat indah berkilauan. Saya mengamati burung-burung laut berterbangan menuju balik bukit. Suasana berubah seperti malam hari selama beberapa menit. Saya merinding dan berdoa, memanjatkan syukur betapa Tuhan maha ajaib menciptakan terang dan gelap, matahari, bulan,dan bintang. Serta bumi ini dalam pusat kendalinya. How great is our God...

Berharap suatu saat nanti pada gerhana matahari hari total berikutnya kita bisa bersama menikmati  singkronisasi matahari, bulan dan bumi. Karena kitapun terpaut karena sinkronisitas. Saya hanya memiliki kamera seadanya tetapi gerhana yang terekam mata tetap tersimpan di kepala dan hati saya.

 

 

 

Kota Palu pada tanggal 9 maret 2016 berada di dalam jalur totalitas dengan durasi gerhana total 2 menit 3,3 detik. Puncak gerhana di kota Palu terjadi pada pukul 08:38:45.8 WITA. Kejadian gerhana matahari total yang langka ini membuat saya bersemangat untuk melakukan dive trip ke Parigi Moutong. Parigi Moutong adalah ibu kota dari kabupaten Parigi yang terletak di Propinsi Sulawesi Tengah. Lokasinya dapat dicapai menggunakan mobil sekitar 3 jam dari kota Palu.

Memasuki bulan maret bukan waktu yang terbaik untuk melakukan aktivitas diving. Tetapi berbeda dengan Parigi Moutong yang diapit oleh Teluk Tomini. Dive spot  dengan air laut yang bening dan beragam biota laut yang sangat eksotis ini bersahabat untuk diselami sepanjang musim. Dengan garis pantai yang cukup panjang, tak heran bila di Parigi Moutong banyak terdapat titik selam dengan keunikan pemandangan bawah laut dengan ekosistem terumbu karang yang eksotik. Terlebih lagi, pemandangan bawah lautnya yang masih alami karena belum begitu ramai dikunjungi. Pemandangan bawah laut di Parigi Moutong didominasi oleh koral-koral raksasa yang beraneka ragam dan visibility yang menembus 30 meter. Saya dapat melihat terumbu karang beraneka warna dengan formasi spon raksasa yang berukuran mencapai dua meter.

Keburuntungan sudah menyapa ketika check dive. Saya disambut oleh eagle ray, dan terbang sangat  cantik mengitari kami. Saya sempat merekamnya dengan  kamera seadanya. Hari kedua dive spot yang membuat saya terkagum-kagum adalah wilayah Amphibabo. Begitu memasuki kedalaman 18 meter saya sudah terpukau dan tak sanggup melukiskan perasaan saya dengan kata-kata. Rasanya seperti berada di planet lain. Dikelilingi oleh gugusan seafan dan gunung-gunung dikedalaman laut, terumbu karangnya juga sangat sehat. Karena bentuk yang mirip dengan lukisan Salvador Dali, maka sponge coral yang jadi ciri khas Parigi Moutong itu dinamakan Salvador Dali sponge. Bukan hanya karena bentuknya yang unik, koral ini juga berukuran sangat besar.  Bagi saya pecinta ikan cantik dan tidak terlalu suka dengan  arus tempat ini seperti menyelam dengan kenyamanan dan kedamaian. Adrenalin tetap tergelitik ketika melihat palung yang sangat dalam. Mungkin bagi penyelam yang menyukai arus dan ikan-ikan besar merasa seperti kurang tertantang diving di Parigi Moutong.

Pengalaman menyaksikan  5 menit total solar eclips yang mungkin tak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya. Dive spot yang luar biasa indah. Semua menjadi kesempurnaan yang membuat saya bersyukur berada ditempat yang tepat dengan waktu yang tepat. Sungguh gabungan yang sempurna.

Saya menginap di Parigi Moutong Dive Resort. Bangunan resort dengan konsep ekowisata, sangat bersih dan bersahabat dengan alam. Makanan yang disajikan juga  sangat lezat, dan memperkenalkan kuliner khas  lokal yang memperkaya pengetahuan akan kekayaan  kuliner Indonesia. Saya kagum karena resort ini menghormati dan memberdayakan penduduk lokal setempat. Semoga bisa kembali kesini dan mendapatkan bonus bertemu whale shark.

 

 Yes, I did dive at Parigi Moutong, you may ask me how was it !!!

 Thank you  Soerya69099 for captured me and beautiful Amphibabo under water.

 

 

 

18 tahun lalu tepatnya saya bergabung menjadi anggota Mapala dimana saya menimba ilmu perkuliahan. Berangkat dari ajakan seorang sahabat dan senior yang menjebak dan menantang saya untuk bergabung  dalam pendidikan pecinta alam . Saya yang waktu itu  katanya gaya "cewek banged"   menerima tantangan itu lalu mendaftarkan diri. Selama seminggu saya ditempa dengan berbagai ilmu di kawasan Taman Nssional Halimun Salak.  Navigasi, SAR, Survival, dan banyak ilmu yang secara formal tidak mungkin saya dapatkan diluar sana. Saya diajarkan untuk melakukan kegiatan  dialam bebas dengan regulasi yang benar, berkontribusi bagi masyarakat, serta peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Saya bangga pernah terlibat untuk berbagai ekspedisi dimasa itu, tidak sekedar menaklukan puncak-puncak gunung, kami juga diajarkan bergerak dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Mengirimkan tim SAR (Search and Rescue) tsunami Aceh, mendirikan posko tanggap bencana di daerah Ps. Minggu dalam membantu korban banjir Jakarta. Dan melakukan kegiatan restorasi kawasan wilayah TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Ikatan yang tercipta antar anggota begitu kuat karena disinilah keluarga kedua kami. Tempat kami belajar dan berburu pengalaman yang tidak saya dapatkan dibangku kuliah. Keluarga ini mengajarkan saya untuk mencintai alam dan belajar banyak dari alam itu sendiri. Tanpa terasa rumah  tempat kami berkumpul ini sudah memasuki usia 40 tahun. Terdiri dari berbagai generasi tapi memiliki visi dan misi yang masih menyatu. 

Terima kasih telah menerima saya  menjadi bagian dari keluarga. Membuat saya lebih kuat dan peka dengan panggilan saya diusia bangku kuliah. Sehingga waktu saya tidak hilang begitu saja dengan sia-sia. Membuat saya mampu melewati batas kemampuan saya yang terbatas menjadi tidak terbatas. Mengajarkan saya dekat dan dapat bersahabat dengan alam itu sendiri.

Ketika siapapun bilang saya tidak sanggup, alam menjawabnya dan mengatakan saya sanggup untuk berjalan menyusurinya. Ketika siapapun bilang saya tidak bisa apa-apa, alam mejawabnya dan mengatakan saya bisa mendakinya. Ketika siapapun bilang saya tidak mampu, alam menjawabnya dan mengatakan saya mampu mencapai puncaknya...

Berikut saya lampirkan janji saya   ketika  dinobatkan menjadi bagian dari keluarga..

Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa. Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.

3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air.

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya .

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam.

6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air .

7. Selesai .

 

 

CS.98.520