Sudah lama Taman Nasional Meru Betiri menjadi salah satu destinasi yang ingin saya kunjungi. Berawal melihat foto-foto jadul para senior saya dan cerita mereka ketika melakukan perjalanan menyusuri taman- taman nasional di Jawa Timur. Taman Nasional Baluran dengan hutan  belantara dan cerita pantai-pantainya yang masih perawan.

Taman Nasional Meru Betiri diresmikan pada 1982 dengan luas sekitar 58 ribu hektare. Kawasan Meru Betiri menjadi habitat tumbuhan langka yaitu Rafflesia zollingerina yang endemik di Jawa. Selain itu, Meru Betiri menjadi rumah bagi satwa yang dilindungi yang terdiri atas 29 jenis mamalia dan 180 jenis burung. Di antaranya banteng (Bos javanicus javanicus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), rusa (Cervus timorensis russa).

Untuk mencapai taman nasional ini, bisa menempuh melalui dua jalur.

Jalur Pertama. Surabaya – Jember – Ambulu dengan jarak 225 kilometer. Rute ini bisa ditempuh sekitar 5 jam. Kemudian diteruskan, melalui Ambulu – Curahnongko – Bandealit, dengan jarak 31 kilometer. Waktu tempuhnya berkisar 3 jam.

Jalur Kedua. Jalur Surabaya – Banyuwangi – Jajag, yang berjarak 342 kilometer. Kurang lebih dibutuhkan waktu 6 jam untuk menjangkaunya. Perjalanan dilanjutkan, dengan melintasi Jajag – Sarongan – Sukamade, dengan jarak tempuh 60 kilometer. Perjalanan ini akan membutuhkan waktu sekitar 3 jam.

Mengingat perjalanan saya kesini tidaklah mudah. Sambil menikmati pemandangan disisi kiri - kanan, saya berpikir bagaimana senior saya 20 tahun lalu mengexplore taman nasional ini. Bagaimana kecerdasan mereka bersatu dengan penduduk desa dan alam disini.

Taman Nasional Meru Betiri terkenal sebagai habitat terakhir harimau loreng Jawa (Panthera tigris sondaica) yang langka dan dilindungi. Sampai saat ini, satwa tersebut tidak pernah dapat ditemukan lagi dan diperkirakan telah punah. Punahnya harimau loreng Jawa berarti punahnya tiga jenis harimau dari delapan jenis yang ada di dunia (harimau Kaspia di Iran, harimau Bali dan harimau Jawa di Indonesia).

Teluk Hijau adalah salah satu pantai yang bisa kita temukan di wilayah Taman Nasional Meru Betiri. Mungkin banyak yang belum tahu tentang keberadaan pantai ini karena namanya memang belum terlalu familiar. Musim kunjungan terbaik, biasanya berlangsung dari bulan Januari hingga Mei. Pantai ini menyimpan pesona yang benar-benar luar biasa walaupun pantainya memang tidaklah terlalu luas.

Kekaguman akan langsung terpancar saat kita berada di Pantai Teluk Hijau karena pantai ini mempunyai pesona yang begitu mengagumkan. Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan selama berada di taman nasional ini. Salah satunya adalah jungle tracking atau hiking menyusuri hutan yang telah ditunjukkan rutenya. Rute tracking ini bisa dimulai dari Bandealit menuju Teluk Meru. Baru kemudian menuju teluk Permisan, baru ke pantai Sukamade. Selain tracking, kegiatan menarik lainnya adalah mengamati penyu saat bertelur sambil melihat keindahan matahari tenggelam di pantai Sukamade.Taman Nasional Meru Betiri menawarkan pemandangan dan pengalaman yang luar biasa. Pepohonan dan satwa liar yang menjadikan hutan ini sebagai rumah dan habitat yang lengkap. Kesempurnaan dari  hutan yang masih  hijau dan laut biru.

 

 

 

 

Adakalanya destinasi tertentu membuatmu  ingin kembali, dan rasanya setiap kembali dirimu diberikan  pemandangan dan pengalaman yang baru. Bagi saya Bromo adalah salah satu destinasi dimana saya merasakan hal itu. Tak pernah jemu untuk kembali bertemu.

Terdapat 2 lokasi  yang bisa digunakan untuk menikmati sunrise Bromo, namun lokasi penanjakan 2, susah untuk dijangkau dan daya tampung yang tidak sebanyak penanjakan 1.

Rute untuk menuju ke Puncak Penanjakan 1 gunung Bromo:

  1. Rute dari Pasuruan melalui Tosari dan Purwodadi
  2. Rute dari Malang Melalui Tumpang
  3. Rute dari Probolinggo melalui Cemara Lawang Sukapura.

 

Untuk perjalanan ini saya memilih rute Probolinggo melalui Cemara Lawang Sukapura. Gunung Bromo identik dengan kawah, lautan pasir, pasir berbisik, Roro Anteng, Joko Seger, orang Tengger, hari raya Kesodo atau Pura Luhur Poten. Namun, jika harus menggambarkan Bromo dengan satu kata saya memilih sunrise.

Matahari terbit di Bromo membuat siapapun terpikat. Dunia mengakuinya, termasuk saya. Beberapa teman seperjalanan mengeluh...Susah payah melakukan perjalanan namun saat jam emas harusnya tiba, hanya mendung dan kabut tebal yang  didapati. Saya pun tak bisa menjawab pasti jika ada yang bertanya. Kapankah waktu yang tepat untuk mengunjungi Bromo?

Saya  tidak ingat lagi  berapakali mengunjungi Bromo. Karena ketika masa kuliah dulu, gunung   Bromo dan Semeru  adalah gunung yang saya pilih untuk sekedar melepas rindu kepada kaldera dan kabut pada puncak-puncak gunung. Alam adalah sebuah kekuatan mahabesar yang tak bisa diprediksi gerak-geriknya. Pagi ini cerah, belum tentu siang, sore, atau malam nanti serupa. Musim kemarau tak menjamin matahari terbit penuh pesona dibandingkan musim penghujan. Begitu pun sebaliknya. Bahkan saya berani berkata setiap hari pun pagi akan terlihat berbeda. Pagi tak akan pernah sama.

Saat seorang teman seperjalanan kecewa karena merasa gagal melihat matahari terbit, saya hanya berujar, ‘Kamu hanya belum beruntung saja.’ “Beruntung” atau “kurang beruntung” lebih tepat disematkan pada kondisi ketika matahari terbit sempurna maupun tidak. Sementara di bawah, lautan pasir sedang berselimut kabut cukup tebal. Bromo sedang batuk saat kunjungan saya kali ini. Kepulan asap belerangnya membumbung, bercampur dengan kabut yang pekat. Jika dilihat dari Pananjakan 1, mungkin seperti lautan awan yang sedang terbang melayang rendah. Bromo dan Gunung Batok nyaris tak terlihat. Saya serasa berada di atas awan. Suasana seperti inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Saya tetap bersyukur masih diberi kesehatan dan masih mampu kembali  menikmati gunung Bromo. Dengan kopi panas yang ada dihadapan dan  memandang kabut tebal, siluet gunung batok dan kepulan asap dari Bromo yang sedang batuk dibawah sana sudah cukup untuk menikmati keajaiban ciptaan Tuhan.

 

 

Air Terjun Madakaripura terletak di Desa Sapih Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Air terjun ini termasuk dalam salah satu air terjun yang tertinggi di Indonesia setelah Air Terjun Sigura-gura yang berada di Sumatera Utara. Selain menyimpan keindahan dan pesona alam yang menakjubkan kawasan ini juga memiliki nilai sejarah.

Menurut legenda air terjun ini merupakan tempat terakhir sang patih legendaris dari kerajaan Majapahit untuk melakukan meditasi. Bahkan hal ini tertulis di kitab Negarakertagama. Bahwa kawasan ini diceritakan sebagai  pemberian Raja Hayam Wuruk untuk sang patih Gadjah Mada. Maka tak heran jika pertama kali  memasuki kawasan ini akan disambut dengan patung Gadjah Mada yang cukup besar dan berdiri dengan kokoh.

Guide saya menjelaskan bahwa air terjun ini juga  sebagai air terjun abadi sehingga debit airnya tak akan habis dan akan mengalir sepanjang waktu. Untuk sampai di kawasan air terjun ini harus berjalan kaki terlebih dahulu yang memakan waktu sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan akan menikmati keindahan dinding tebing batu dan pohon lebat karakter hutan hujan tropis. Banyak sekali yang akan menjual jaket hujan ketika melakukan perjalanan kelokasi air terjun. Mungkin harus dibenahi oleh pengelola karena sedikit mengganggu kenyamanan. Saya ditawarkan oleh penjual jaket hujan mulai dari lokasi parkir. Mereka gigih dan silih berganti berganti menawarkan jaket hujan. Mbak, nanti basah kuyub lowh, air terjun nya deras walaupun hanya melewatinya saja.. Lalu saya sekedar menjawab memang niatnya kesini mau basah-basah kok pak...Sambil berjalan, dari kejauhan pemandangan air terjun  Madakaripura sangat cantik.

Tiba di lokasi air terjun Madakaripura  saya langsung disambut oleh guyuran  air dari bebatuan yang menjulang tinggi diatas kepala saya. Air terjun Madakaripura tidak sekedar tinggi. Keunikan dimensi bentuk ruangnya membuat saya kagum. Saya sempatkan berdiam diri menikmati suara air yang jatuh. Rasanya sungguh damai, tempat yang tepat untuk berkontemplasi dan bermeditasi. Wajarlah mengapa  Gadjah Mada memilih bermeditasi disini. Saya sagat mengagumi air terjun Madakaripura. Kesempurnaan alam yang  yang sungguh menakjubkan.

 

 

 

 

 

 

Saya memang sangat mengagumi semua  taman nasional yang ada di Indonesia. Baik taman nasional hutan, gunung dan lautnya. Mungkin juga  karena belum ada kesempatan untuk mengagumi Taman Nasional negara-negara lain. Jadi biarkan saat ini saya terpukau dengan kekayaan negri sendiri.

Dua tahun lalu tepatnya saya pertamakali berkunjung ke taman nasional Baluran. Memang banyak yang berubah. Mungkin saya yang kurang beruntung atau memang musimnya yang membuat ekosistem di taman nasional terlihat kurang  terawat. Jadi istilah mari segera mengunjungi tempat- tempat indah di Indonesia sebelum berubah terkadang ada benarnya juga.

Karena lokasi taman nasional ini berada diantara kota Banyuwangi dan Situbondo, maka jalur menuju Taman Nasional Baluran bisa ditempuh dari 2 arah:

1. Dari Kota Banyuwangi

Arahkan kendaraan  ke arah utara Banyuwangi yaitu menuju Batangan, Situbondo. Waktu yang diperlukan kurang lebih memakan waktu 45 menit dengan jarak tempuh 40 km.

2. Dari Kota Situbondo

Jika dari arah Situbondo berjarak kurang lebih 60 km. Arahkan kendaraan ke utara menuju Asembagus. Setelah itu  akan melewati hutan (alas) dengan jarak 23 km. Setelah keluar dari hutan inilah taman nasional Baluran berada, yaitu di Batangan

Orang-orang menyebut taman nasional Baluran“Afrika-nya Indonesia” karena di dalam kawasan taman nasional ini terdapat padang savana paling luas di pulau jawa dan dihuni oleh species tumbuhan dan hewan yang beragam. Saat mulai memasuki kawasan TNB, banyak sekali monyet yang bergelantungan di pepohonan dan berlalu-lalang di tepian jalan. Rasanya kita harus benar-benar bersyukur tinggal di negara Indonesia tercinta yang semuanya ada disini. Taman Nasional ini cukuplah lengkap, selain padang savana, ada juga pantai bama, hutan mangrove, hutan pegunungan dan hutan rawa. Jika iseng-iseng jalan kaki mengelilingi kawasan taman nasional ini dari ujung ke ujung, akan memakan waktu berbulan-bulan karena luasnya mencapai 25 ribu hektar.

1. Savana Bekol Ini dia primadonanya TN Baluran, setiap pengunjung yang mampir ke sini pasti selalu menyempatkan diri untuk berfoto di depan deretan tengkorak kerbau yang tersusun di sebuah gubukan khusus. Areal ini akan kelihatan seperti padang rumput di Afrika yang kering pada sekitar bulan April hingga Oktober. Di luar itu, biasanya akan berubah menjadi padang rumput hijau.

2. Menara Pandang di Bekol Masih di lokasi yang berdekatan, berpindah sedikit ke belakang tempat penginapan yang ada di daerah Bekol, kalian akan menemukan sebuah menara pandang. Di sini biasanya para fotografer akan berkumpul untuk mengintai burung. Bukan cuma itu, pemandangan cantik dengan latar belakang Gunung Baluran juga terlihat dari sini. Kalau beruntung, bisa menemukan kerbau liar dan merak hijau di daerah Bekol.

3. Evergreen Ini adalah areal hutan hujan tropis yang terletak di sepanjang jalan sebelum Bekol. Kalau di sabana Bekol ada masa-masa kemarau, di sini beda lagi. Sepanjang tahun tempat ini tetap menghijau, itulah mengapa namanya disebut Evergreen. Kalau beruntung, kita bisa berpapasan dengan ayam hutan, rusa, kerbau, ular, hingga macan tutul yang melintas. Beberapa spesies kupu-kupu dan burung juga bisa ditemukan di sini.

4. Pantai Bama Pantai Bama adalah tempat favorit pengunjung untuk menyaksikan matahari terbit, juga tempat untuk membuat foto sunrise keren di TN Baluran. Selain itu, di pantai ini kita juga bisa snorkeling, bermain kayak, hingga menyewa perahu untuk berlayar ke tengah laut. Di pinggir pantai biasanya terlihat gerombolan monyet liar, jadi hati-hati dengan barang bawaan masing-masing. Biasanya monyet senang menarik barang bawaan kalian karena mengira ada makanan.


Saya berharap departemen dikementrian terkait dan pengunjung dapat menjaga kekayaan yang ada di Taman Nasional Baluran. Membangun fasilitas bukan berarti merusak ekosistem yang ada. Meningkatkan jumlah pengunjung tidak serta merta menjadikan hewan-hewan tersebut menjadi terancam dirumahnya sendiri.

 

 

 

 

IKAN
Ikan adalah organisme atau hewan yang sebagian atau seluruh hidupnya berada di dalam perairan. Ikan sering kita temui ketika sedang melakukan aktifitas menyelam. Banyak sekali jenis ikan yang hidup di laut dan memiliki beragam warna. Ikan sering dijadikan objek foto dan video bagi para penyelam. Disetiap daerah memiliki ciri khas nya masing-masing untuk jenis ikan, dari ketertarikan seperti ini banyak penyelam yang rela meluangkan waktunya untuk sekedar ingin melihat ikan tersebut.

 

TERUMBU KARANG

Terumbu karang adalah rumah bagi ikan dan biota lainnya. Terumbu karang ini memiliki peranan yang sangat penting di laut. Yaitu : tempat ikan berkembang biak, tempat mencari makan dan tempat berlindung dari predator. Indonesia sebagai negara yang mempunyai iklim tropis sangat mendukung dengan perkembangan dan pertumbuhan terumbu. Segitiga terumbu karang di dunia adalah , di  Indonesia salah satunya. Dan yang perlu diketahui, Terumbu Karang itu terdiri dari dua suku kata, yakni Terumbu (bangunan kapur) dan Karang (Hewan nya). Maka dari itu terumbu karang terlihat ada yang ukuran besar, karena selalu berkembang. Pertumbuhan terumbu karang sangat membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebagai penyelam, kita harus menyadari akan hal itu dan harus mempunyai sikap ramah akan lingkungan. Dengan menyelam yang baik dan benar, mengetahui kicking agar tidak menyentuh terumbu karang.

 

BENTHOS

Apa sih yang terbenak dalam pikiran kita ketika mendengar kata bentos. Bentos merupakan organisme atau hewan yang hidup didasar perairan. Banyak sekali bentos yang dijadikan objek foto, contohnya adalah Nudibranch (kelinci laut), udang-udangan (crustacea), bintang laut, dan lain-lain. Tempat tinggal bentos ini pun berada di sekitar terumbu karang. Bentos ini ada yang ukurannya kecil sampai ada yang besar. Menjadi penyelam, tidak hanya mempelajari tentang teknis menyelam saja tapi setidaknya kita harus mengenal dunia yang akan kita masuki. Semakin kita mempelajari kehidupan bawah laut maka kita akan semakin cinta  dan berusaha untuk  menjaga agar tetap indah dan sesuai fungsinya.

Let’s Dive, and Keep Coral Reef