Labuana adalah desa di kecamatan Tawaeli, Donggala, Sulawesi Tengah. Pantai Labuana merupakan salah satu destinasi wisata pantai berpasir putih disepanjang pesisir pantai barat Donggala. Desa ini sebenarnya berpotensi menjadi tujuan wisata baik lokal maupun manca negara tetapi sayangnya  belum terjamah, Labuana dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Berangkat dari kota Palu dimalam hari kami menempuh 3 jam perjalanan dengan satu kali istirahat untuk meluruskan kaki dan menikmati jagung rebus. Banyak juga yang melakukan perjalanan ke Labuana malam itu. Perjuangan ke Labuana memang cukup menantang. Kami harus melewati jalanan yang rusak parah. Menggunakan Nissan Juke tetap saja membuat kami super degdegan. Karena disisi kiri jalan longsor dan disisi kanan jalan terdapat juram yang cukup terjal. Tapi semua tantangan itu kami nikmati bersama walaupun ada sedikit kecelakaan. Melakukan perjalanan dengan pasukan yang super seru, tak terasa jam 1 dini hari kami sampai di Labuana.

Pergi kesuatu tempat yang belum pernah didatangi memang menjadi jenis kesenangan yang sangat memikat. Langit malam dan bintang-bintang membiarkan kami menikmati mereka. Bintang-bintang itu membawa saya untuk merenung... Sekitar pukul 4 dini hari, kami mulai disapa oleh para nelayan setempat yang sangat ramah. Pagi kami disambut oleh kedamaian kabut dan embun sebagai pertanda pagi baru yang mulai tumbuh. Saya mulai menyepi sendiri ke dermaga sambil membawa gitar dan menikmati diri saya. Melakukan  kontemplasi dan merenungi resolusi yang gagal juga resolusi yang baru. Menyadari bahwa ternyata ada suatu tempat dimana hanya ada rasa damai. Tempat dimana saya mampu memberi jeda pada hidup. Ketika saya bersenandung sendiri ada beberapa anak yang datang duduk memperhatikan saya bermain gitar. Saya mulai mengajak mereka bernyanyi lagu anak, tapi tak satupun yang mereka ketahui. Bahkan lagu sepopuler bintang kecil tidak ada yang dapat melanjutkan liriknya. Saya lalu bertanya lagu apa yang mereka bisa. Dan terkejutlah saya ketika mereka meminta saya memainkan lagu goyang dumang....WHATTTTT ???

Ada seorang anak yang menarik perhatian saya. Heri namanya... Dia anak yang istimewa, sepertinya Heri terkena virus polio. Kakinya tidak berkembang mengakibatkan dia kesulitan berjalan. Tapi saya melihat semangat dan energinya yang kuat untuk berjuang. Saya sempat bertanya tentang cita-citanya. Dia menjawab ingin menjadi pemain bola seperti Messi. Tak lama mereka menantang saya untuk lompat dari dermaga kedalam lautan dihadapan kami. Ketika saya berdiri, saya terkejut nyaris lupa bernafas. Sekumpulan ikan ada dibawah sana seperti barisan tentara yang siap menyerbu kota. Saya bisa melihat ikan itu berbaris sedalam 15 meter dengan lebar barisan sekitar 20 meter, pasukan ikan itu berliuk liuk dibawah sana. Sayapun langsung menyambut tantangan anak-anak Labuana. Melompat dari jetty dengan perasaan takut, namun rasanya sayang kalau dilewatkan. Akhirnya saya memilih melompat seperti anak-anak Labuana. Kami bermain, dan menyelam bebas dibawa jetty sampai perut terasa lapar. Perhatian saya tak lepas dari Heri. Bagaimana dia bisa membuat kelemahannya menjadi sesuatu yang tidak perlu dirisaukan. Heri menyelam dan terus menyelam tanpa lelah.  Menggerakkan kakinya dan mengejar ikan-ikan. Sepertinya Tuhan menyampaikan sesuatu pesan setiap saya menatap Heri. Saya melihat diri saya yang justru sering melemah tanpa alasan...Di Labuana saya menemukan kedamaian dalam kesadaran diri yang hening dan jauh dari hiruk-pikuk pikiran dan penghakiman manusia lain.

Kiranya tulisan ini mampu menjadi jembatan, bahwa ada desa pesisir pantai yang tidak kalah menarik dari destinasi lainnya yang ada di Indonesia. Sebuah catatan perjalanan dihari ucapan syukur ketika bertambahnya usia. Perjalanan yang membawa pulang harapan dan energi baru, sehingga mampu melewati batas kemampuan.

Sepucuk puisi ini terilhami dari kehangatan desa Labuana.

Tuhan...

Ajari aku tentang ketenangan laut biru

Ajari aku tentang kekuatan ombak yang tak lelah mencumbu

Ajari aku tentang gelombang laut yang tak pernah ragu

Biarkan mataku selalu mampu menikmati indahnya senjaMu

Dan membalas kerlingan malam bintang-bintangMu

Biarkan getar sayapku menari dalam liukan energiMu

Sampai malaikat-malaikatMu mengajakku kelangit ketujuh

 

 

 

 

Palu  memang lebih terkenal akan keindahan wisata baharinya. Namun ternyata, di samping pantai dan teluk yang menjadi daya tarik kota ini, ada pesona budaya dan peninggalan purba di kota Palu yang layak untuk dijadikan destinasi wisata. Sou raja adalah tempat yang tak boleh untuk dilewatkan bagi mereka yang mencintai budaya dan sejarah. Sebelum mengunjungi Sou Raja menurut informasi dari Medi , ada beberapa hal yang harus kita persiapkan. Medi  adalah generasi ke -5 dari Raja Yojokodi. Dan  kamipun segera  melakukan pencarian  item yang disyaratkan oleh Medi. Kami langsung meluncur ke pasar terdekat untuk mencari  kapur sirih, pinang, gambir dan tembakau, juga rokok dan korek api. Setelah semua syarat kami dapatkan, kamipun langsung kembali ke Sou Raja. Setelah permohonan izin lalu  Medi melakukan  prosesi ritual  yang sudah biasa dia lakukan. Saya sedikit merinding ketika Medi melakukan prosesi ritual ini. Selanjutnya  beliau mengajak saya mengigit sedikit dari sajian yang kami bawa tersebut. Yahhhh, seperti  perjamuan selamat datang. Menggigit sedikit pinang, sedikit tembakau,  baru kita memulai pembicaraan. Saya sangat menikmati diskusi kecil ini. Medi  bercerita tentang tantangan saat ini adalah  bagaimana  agar generasi muda mencintai budaya dan sejarahnya. Bagaimana menciptakan generasi yang gemar ke museum dari pada ke mall, memang menjadi tantangan generasi ini.

Menurut Medi, rumah adat Sou raja dahulu berfungsi sebagai tempat tinggal para raja dan keluarga. Selain itu rumah adat tersebut juga sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Pembangunan Sou Raja ini atas prakarsa Raja Yodjokodi pada sekitar abat 19 masehi. Luas keseluruhan Banua Oge atau Sou Raja adalah 32x11,5 meter. Tiang pada bangunan induk berjumlah 28 buah dan bagian dapur 8 buah. Bangunan Induk sendiri berukuran 11,5 x 24,30 meter, yeng terbagi atas 4 bagian yaitu :

a.      Gandaria ( Serambi )   : Berfungsi sebagai tempat ruang tunggu untuk tamu. Dibagian depan terletak anjungan sebagai tempat bertumpuhnya tanggah yang terdiri dari 9 anak tanggah dengan posisi saling berhadapan. ( Lihat pada gambar ).

b.      Lonta Karavana ( Ruang Depan )  : Ruangan ini digunakan sebagai tempat penerimaan tamu untuk kaum laki-laki dalam pelaksanaan upacara adat. Selain itu Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat tidur bagi kaum laki-laki.

c.       Lonta Tatangana ( Ruang Tengah ):  Ruangan ini digunakan sebagai tempat musyawarah Raja beserta para tokoh-tokoh adat. Di ruangan ini juga terdapa dua kamar tidur untuk Raja.

d.      Lonta Rarana ( Ruang Belakang ) :  Ruangan ini dugunakan sebagai tempat makan untuk Raja beserta keluarga. Diruangan ini juga terdapat kamar untuk wanita dan para anak gadis. Selain itu ruangan ini juga digunakan untuk menerima kerabat dekat.

Bangunan Sou Raja memang terlihat artistik, karena hampir semua bagian bangunan ini diberi hiasan berupa kaligrafi Arab dan ukiran dengan motif bunga-bungaan dan daun-daunan. Hiasan-hiasan tersebut terdapat pada jelusi-jelusi pintu atau jendela, dinding-dinding bangunan, loteng, ruang depan, pinggiran cucuran atap, papanini, dan bangko-bangko. Semua hiasan tersebut melambangkan kesuburan, kemuliaan, keramah-tamahan dan kesejahteraan bagi penghuninya. Tidak terasa hari sudah menjelang sore dan kami harus melanjutkan perjalanan ke museum.  Thank' s ya  Medi, untuk kerendahan hati dan bersedia  menerima kedatangan saya  di Sou Raja.

 

 

 

 

Masih dari rangakaian perjalanan suci di Sulawesi Tengah. Desa tenun Donggala juga menjadi destinasi yang tak boleh dilewatkan. Saya memang tidak memiliki banyak koleksi tenun dari berbagai penjuru tanah air. Tetapi saya suka akan nilai nilai dari sebuah kain tenun dan mulai belajar banyak tentang proses pembuatan kain tenun. Dimana dalam sehelai benang pada kain  tenun adalah sebuah karya yang sarat akan  perjuangan dan penuh dengan filosopi dan nilai estetika.  Sejumlah tempat di Kabupaten Donggala yang menjadi pusat pengrajin tenun di antaranya berada di Desa Towale dan Watusampu di Kecamatan Banawa yang berjarak 40 kilometer dari Kota Palu. Sulawesi Tengah kaya akan Budaya yang diwariskan secara turun menurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan  masyarakat sehari-hari.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai  bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik special yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.Kain tenun ini adalah kain tenun Donggala, atau juga disebut orang sarung donggala. Orang-orang disana menyebutnya sebagai Buya Sabe. Kain tenun Donggala telah ada sejak ratusan tahun silam.  Buya Sabe atau Sarung Donggala, umumnya terbuat dari benang sutra. Dibuat oleh para perempuan paruh baya berusia 50 – 60 tahun dan  gadis remaja berusia 12-20 tahun menggunakan alat tenun bukan mesin, yang terbuat dari kayu berukuran 2×1 meter.

Beruntungnya saya dapat mengunjungi desa tenun Towale dan Watusampu di Kecamatan Banawa, dan sekaligus belajar sedikit cara bertenun. Alat alat yang digunakan masih sangat sederhana. Saya sempat mencoba TBM, alat tersebut terdiri oleh lilitan benang aneka warna. Cara menggerakkannya pun dilakukan dengan kaki yang menginjak pedal-pedal dari kayu, layaknya sedang mengayuh pedal mesin jahit. Alat itu juga menggunakan sisir besi yang ada sejak turun-temurun. Selain kain tenun Donggala, para penenun juga menghasilkan sarung Donggala dengan panjang dua meter dan lebar 60 centimeter. Rata-rata para pengrajin itu membuat kain tenun dengan panjang mencapai empat meter. Dengan motif yang juga diwariskan secara turun temurun. Saya sempat bertanya apakah ada dokumentasi untuk berbagai motif tenun yang mereka buat. Dan jawabannya adalah hanya didalam kepala ibu saja... Corak kain tenun yang ada di desa tersebut antara lain, kain palekat garusu, buya bomba, buya sabe, kombinasi bomba, sabe , motif bunga mawar, bunga anyelir, bunga subi, kombinasi bunga subi dan bomba, dan buya subi kumbaja. Corak Buya bomba yang paling sulit, dapat membutuhkan waktu pengerjaan hingga dua bulan. Berbeda dengan corak lainnya hanya beberapa minggu saja. Dulu, kain atau sarung Donggala hanya boleh dikenakan pada acara perkawinan, sunatan, dan upacara adat. bahkan motif tertentu, seperti palaekat, hanya boleh dikenakan raja atau kaum bangsawan. Seiring dengan perkembangan zaman, kain tenun donggala banyak dimiliki masyarakat umum dan digunakan dalam berbagai kesempatan resmi. Harga kain tenun Donggala pun beragam, mulai Rp300.000,00 hingga Rp700.000,00 tergantung tingkat kesulitan pembuatannya. Kerajinan kain tenun sarung sutra yang selama ini menjadi andalan masyarakat Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, makin sulit didapatkan. Pasalnya, jumlah perajin terus menyusut. Bahkan, hingga kini, hanya tinggal beberapa perajin saja yang mengembangkan usaha tersebut. Padahal, jumlah permintaan masih cukup besar. Dalam dua tahun belakangan ini, hasil kerajinan tadi mulai menurun di pasaran. Karena jumlah perajin terus menyusut dan hanya terbatas pada kalangan tua. Sedangkan anak muda setempat, lebih memilih menjadi buruh atau merantau ke kota dibandingkan melanjutkan usaha tenun. Akibatnya, hasil kerajinan sangat sulit didapatkan. Untuk menghidupkan kembali usaha ini, banyak kalangan setempat yang berharap Pemerintah Daerah Donggala mau ikut menyelamatkan kerajinan tenun ini.

Karena generasi yang tidak memiliki pengetahuan tentang sejarah, budaya, dan asal usulnya seperti pohon tanpa akar.

 

 

 

 

Mendarat di kota Palu sekitar jam 15.30 saya disambut oleh  matahari yang masih sangat terik, suasana panas dan lingkungan bandara yang cenderung gersang menambah rasa gerah. Mungkin karena kota Palu sudah mendekati garis equator yang melintasi Sulawesi. Di Bandara Palu Mutiara  saya sudah ditunggu oleh  De best Operator trip   selama melakukan perjalanan di Sulawesi Tengah. Mereka membawa saya untuk  menikmati sunset dipantai terdekat sebelum ke hotel . Saya memilih hotel dilokasi yang sangat nyaman selama melakukan rangkaian perjalanan suci ini. Hotel dengan pemandangan cantik di depan mata berupa Teluk Palu dan masjid terapung. Dari Bandara Mutiara, perjalanan ke hotel tersebut hanya menempuh waktu sekitar 15 menit saja. Selain dekat dari bandara, hotel ini juga dekat ke berbagai destinasi wisata. Saya bisa jalan kaki ke masjid terapung atau foto-foto di Jembatan Layang Ponulele. Yang agak lebih jauh, ada Pantai Talise dengan banyak penjaja durian. Menikmati durian lokal juga salah satu kegiatan yang tidak pernah saya lewatkan ketika melakukan perjalanan kekampung orang.

Hari pertama destinasi pertama saya adalah Prince John Dive Resort, Tanjung Karang. Dari malam harinya saya sudah melakukan check peralatan dive. Sipinki siap mencoba dive spot dilokasi yang belum pernah dikunjunginya. Tanjung Karang memiliki keindahan bawah laut sebagai salah satu pemikat para wisatawan. Perairannya menawarkan pesona surga bawah laut yang memanjakan mata para penyelam. Dengan airnya yang sangat jernih, visibility mencapai 15 meter. Dan yang paling saya suka adalah arus yang tenang. Tanjung Karang dikenal sangat kaya terumbu karang. Menurut guide dive di Dive Center, Prince John Dive Resort, ada 17 gugus terumbu karang di sana, tersebar dalam radius sekitar 20 kilometer. Di antara 17 gugus terumbu karang tersebut, 14 berada di kawasan Tanjung Karang. Tiga lainnya agak jauh kearah utara kawasan Tanjung Karang. Rutenya meliputi Anchor Reef, Natural Reef, Green Wall, Irmis Block, Alex Point, dan Rocky Point. Jaraknya sekitar 500 meter. Di Donggala, ada 22 spot menyelam, dan dua bangkai kapal di bawah laut yang biasanya disukai para penyelam, juga disana sering tinggal beberapa ikan hiu yang ramah terhadap para penyelam.

Atmosphere di pantai yang berjarak 3 Km dari pusat kota Donggala ini pun tak kalah menarik. Tak jauh dari garis pantainya yang berpasir putih, para pengunjung pantai ini bisa berendam dikesegaran airnya atau menyaksikan aneka warna ikan yang berkejaran disela-sela bunga karang dengan bersnorkeling ria. Melihat laut biru, bibir pantai landai berhias pasir putih lembut, di bawah langit biru yang bermandikan awan putih bersih, aneka warna terumbu karang dan ikan, jajaran pohon kelapa dan ekosistem sekitarnya yang menakjubkan, sungguh memikat untuk diving dan snorkeling.

Sebelum Palu dijadikan sebagai ibukota, Donggala adalah pusat kota dengan berbagai aktivitas pelabuhan dan perikanan yang ramai. Namun, sesudah relokasi Palu sebagai pusat pemerintahan, lambat laun Donggala terabaikan dan menjadi kota mati. Sebagian penduduk memilih bekerja di Palu karena daya tarik urbanisasi. Yang mana pusat pengembangan bisnis dan infrastruktur ada di sana, jadilah Donggala terbengkalai dan terabaikan. Secara keseluruhan Donggala destinasi yang sangat indah dan mempesona. Yang menjadi tugas bersama dan  harus berkesinambungan yang harus  dilakukan adalah masalah kebersihan. Mengedukasi penduduk serta para tourist lokal untuk senantiasa menjaga kebersihan, dengan tidak membuang sampah sembarangan!

 

 

 

Setelah mencoba terbang pertamakali di Puncak, Bogor. Rasanya ada keinginan untuk mencoba lagi dan lagi   terbang di lokasi berikutnya. Mungkin saya termasuk manusia yang memiliki lamunan bisa terbang seperti burung. Dan hal itu menjadi kenyataan dengan mencoba paralayang . Untuk bisa terbang melewati bukit – bukit, gunung-gunung, lembah, hutan dan pepohonan. Paralayang menjadi cara untuk menikmati berada diketinggian dengan sensasi tersendiri. Dimana bisa merasakan kebebasan diangkasa raya, bagaikan seekor burung yang terbang tanpa beban. Ketika melayang diketinggian secara tidak langsung, saya merasakan penghargaan terhadap diri sendiri. Dan menikmati alam yang terbentang tanpa halangan di depan mata. Pukul 05.00 pagi, saya dijemput  untuk melakukan paralayang di Matantimali. Serangkaian kegiatan saya di Sulawesi tengah ditemani oleh  "nature's army" TRIPINUS. Generasi  muda yang memiliki keinginan kuat memperkenalkan potensi daerahnya. Energi dan kebaikan hati  mereka membuat saya merasa sudah seperti bagian dari keluarga. Hari itu saya sangat exited karena akan  menikmati sunrise sekaligus menggapai langit tinggi. Tepat jam 09.00 WITA  saya take off. Perasaan  berjuta rasanya, campuran dari  rasa takut, dan  keinginan kuat yang tak terucap, kini terbang menjadi perasaan bahagia. Hanya rasa bahagia... Tanpa terasa saya sudah terbang, sambil melambungkan angan dan harapan. Menyongsong mimpi-mimpi yang masih menggelayut, sambil mengantar doa ke langit. Dan bersyukur untuk setiap bentuk cinta, dalam hidup ini. Tepat 35 menit saya terbang, dan mendarat mulus dilapangan bola disambut anak anak yang sedang bermain. Serasa seperti dewi kayangan yang turun dari langit disambut oleh malaikat malaikat kecilnya. Jangat tanya apa rasanya... Itulah rasa yang tak dapat dibeli dengan apapun juga. 

Beruntung saya bisa sampai ke puncak Matantimali, kabupaten Sigi provinsi Sulawesi Tengah. Untuk mencapai tempat ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Kota Palu. Tempat ini memiliki panorama alam yang sangat menakjubkan. Kita dapat menikmati keindahan teluk Palu dan sekitarnya dari ketinggian 1100 meter diatas permukaan laut. Gunung Matantimali adalah lokasi paralayang terbaik di Asia Tenggara, karena satu-satunya lokasi yang dapat digunakan untuk terbang sepanjang tahun. Berbagai kejuaraan paralayang baik yang berskala nasional maupun internasional pernah diselenggarakan disini.  

Olahraga ekstrem seru ini jadi seperti hiburan baru yang mulai saya nikmati. Ketika parasut yang naik disebabkan oleh panas (thermal lift) menjadi  daya angkat, membuat adrenalin terpacu untuk terbang tinggi dan menempuh jarak yang sangat jauh. Parasut paralayang terdiri dari dua permukaan paralel yang kuat dan saling dihubungkan dengan lembaran-lembaran vertikal atau biasa disebut ribs. Payung paralayang bisa mengangkat beban 150 kilogram. Selain peralatan dasar, pilot memperlengkapi diri dengan perlengkapan pendukung seperti variometer yang memberi aneka informasi penerbangan, handy talkie untuk berkomunikasi juga global positioning system (GPS) untuk memastikan posisi. Selain angin, cuaca juga jadi faktor penentu, apakah pilot bisa mengudara atau tidak. Salah satu petunjuknya adalah melihat bentuk awan yang bisa menandakan baik-buruknya cuaca. Ketika terbang diatas sempat terpikir mungkin akan lebih puas kalau terbang sendirian. Dengan kemampuan sendiri akan bebas untuk terbang, melayang jauh tinggi ...  Menambah  lisens untuk kegilaan yang baru???