Senandung negri di atas awan... Ketika budaya dan kecantikan alam bertemu lalu berkolaborasi menghasilkan daya magisnya.

 

Sudah lama saya ingin menikmati acara Dieng Culture Festival. Tapi tahun bertemu tahun selalu ada saja halangan. Akhirnya bersama  adventure partner yang  memiliki kerinduan yang sama, setelah pulang bekerja kami   berangkat mengikuti serangkaian acara Dieng Culture Festival (DCF) 2015. Berbagai acara berupa , pertunjukan musik jazz, pentas kesenian tradisional, pagelaran wayang kulit, pesta lampion , penanaman pohon dan ruwatan anak berambut gimbal. Ruwatan  rambut gimbal di Dieng merupakan puncak acara Dieng Culture Festival (DCF) 2015. Di Dieng beberapa anak memiliki rambut gimbal asli. Dilatarbelakangi oleh keyakinan dan mitos warga setempat. Rambut anak-anak yang gimbal secara alami tersebut akan dipotong kemudian diupacarakan untuk dilarung ke sungai. Rambut gimbal tersebut haruslah dipotong, konon katanya bila rambut gimbal dibiarkan, masyarakat Dieng percaya anak itu beserta keluarganya akan terancam musibah.

Ketika dihari puncak acara ruwatan anak berambut gimbal, saya berpisah spot  dari partner saya yang hobby fotografi. Saya tetap konsisten dengan hobby dipoto, Hahahaha... Mendapat  spot yang nyaman dan cukup teduh di blok media masa yang dikhususkan untuk para wartawan stasiun televisi dan media massa lainnya. Saya sebagai pengunjung biasa menilai acara DCF 2015 memang cukup terencana dengan baik. Terlihat dari cara penanganan di berbagai sudut acara. Ketika sedang memperhatikan hiruk pikuk manusia yang siap menanti ritual acara pemotongan anak rambut gimbal, saya bertemu dan berkenalan dan tanpa sengaja dengan anak bupati Banjarnegara yang rendah hati dan juga sangat menyenangkan sebagai seorang anak. Si anak bupati menawarkan saya untuk masuk kedalam lokasi upacara. Pastilah saya menyambut tawarannya dengan senang hati. Hanya kalangan terbatas yang diperbolehkan masuk ke lokasi acara ritual pemotongan rambut gimbal. Sedikit mengusik saya sich, mengapa anak kecil ini berbaik hati kepada saya. Dia menawarkan semua tempat yang ingin saya lihat. Mulai dari benda – benda yang menjadi keinginan anak rambut gimbal. Para penari dan perlengkapan sakramen acara, bahkan kedalam candi candi yang saya lewati. Dan sampai hari ini sianak bupati masih sering menanyakan kapan saya kembali berkunjung kekampungnya.

Selain mengikuti serangkaian acara di DCF 2015 ini. Mengunjungi gunung Prau adalah “toplist to do”. Tetapi karena sesuatu hal dengan berat hati harus dicoret. Mungkin ini menjadi menjadi alasan suatu saat harus kembali.

Berikut lokasi yang cukup indah untuk dikunjungi ketika anda ke Dieng.

Telaga Warna:

Telaga warna adalah salah satu landmark dari wisata Dieng Wonosobo. Nama Telaga Warna diambil karena telaga ini memiliki warna yang berbeda-beda. Telaga Warna ini memiliki legenda tersendiri. Menurut legenda warga sekitar, warna yang muncul di permukaan telaga tersebut karena zaman dahulu kala ada cincin milik bangsawan yang jatuh ke dalam telaga tersebut. Secara ilmiah, warna yang berbeda dari telaga tersebut karena adanya pembiasan cahaya pada endapan belerang di dasar telaga. Dominasi warna dari telaga ini adalah hijau, biru laut dan putih kekuningan. Jika ingin melihat keindahan warna dari telaga, Anda dapat mendaki ke puncak bukit yang mengelilingi telaga tersebut. Di daerah tepian telaga, terdapat balkon yang dapat digunakan untuk duduk bersantai menikmati keindahan telaga ini.

 

Bukit Sikunir:

Ingin melihat sunrise? Anda bisa datang ke Bukit Sikunir. Bukit ini adalah sebagai tempat berburu sunrise. Bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Jawa Tengah. Bukit Sikunir berada pada ketinggian 2.200 mdpl. Dinamakan bukit Sikunir karena bukit ini banyak membuat wisatawan ketagihan berburu sunrise. Warna sinar matahari yang kekuningan seperti kunir membuat masyarakat setempat menamainya sikunir. Kunir adalah bahasa Jawa dari kata kunyit. Tapi hari itu bukit Sikunir sangat penuh sesak oleh pendaki. Akhirnya kami mendaki bukit disebelah Sikunir. Kami menanti sunrise dengan titik pantauan yang cukup indah walaupun bertanya tanya dalam hati bagaimana pemandangan sunrise di Sikunir. Menurut saya itu keputusan yang tepat dari pada harus berumpel- umpelan dan tidak menikmatinya apabila kami memaksakan diri ke Sikunir.

 

Kawah Sikidang:

Dataran tinggi Dieng Wonosobo memiliki beberapa kawah yang indah, yaitu Kawah Sikidang, Kawah Candradimuka, dan Kawah Sileri yang masih aktif. Kawah Sikidang adalah salah satu kawah yang dijadikan tempat wisata di Dieng dan berlokasi di wilayah Dieng timur. Pemandangan di sekitar kawah ini sangat indah, perpaduan hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar tanah kawah. Diberi nama Sikidang karena kolam magma di kawah ini sering berpindah-pindah seperti Kidang (bahasa Jawa untuk hewan Kijang). Gejolak magma di kawah ini juga cukup tinggi, antara setengah hingga satu meter. Kawah Sileri merupakan salah satu kawah terbesar di dataran tinggi Dieng dengan luas sekitar 4 hektar. Anda dapat mencapai kawah ini dengan perjalanan sejauh 7 km dari kawasan wisata utama Dieng. Kawah Sileri masih masih mengeluarkan asap putih. Diberi nama Sileri karena warna air kawah ini putih dan aromanya seperti air bekas mencuci beras (dalam bahasa Jawa disebut leri). Sedangkan Kawah Candradimuka adalah kawah yang terkenal di dalam cerita legenda pewayangan. Dalam legenda diceritakan, kawah ini adalah tempat di mana Gatotkaca dijedi (dimandikan dalam bahasa Jawa) sehingga memiliki kesaktian yang luar biasa.

 

Candi Dieng:

Candi adalah sebuah simbol kepariwisataan di Dieng. Candi jugalah yang membuat Dieng menjadi tempat yang sakral. Di sini terdapat banyak Candi Hindu yang tersebar di berbagai lokasi. Candi-candi yang terdapat di Dieng diberi nama sesuai dengan tokoh Mahabarata. Ada Candi Bima, Arjuna, Gatot Kaca, Srikandi,dll.

Gunung Prau:

Peristiwa terbit dan tenggelamnya sinar matahari adalah saat yang sering ditunggu-tunggu oleh para pendaki. Keindahan warna langit jelang pergantian hari tersebut selalu melahirkan pesona tersendiri. Untuk melihat sunrise di gunung Prau  memang sangat indah, karena seluruh siluet gunung Sundoro, Sumbing dan beberapa gunung lain menjadi siluet yang sangat mengagumkan.

Gunung Pakuwaja:

Yang unik dari Gunung Pakuwaja menurut guide kami  adalah di puncaknya anda bisa melihat batu besar menjulang berbentuk serupa menhir. Menurut mitos yang beredar, batu tersebut adalah Pakunya jawa.

Gunung Prau dan Gunung Pakuwaja sepertinya akan menjadi alasan saya  untuk kembali  mengexplorasi dataran tinggi Dieng. Berada di daerah cekungan yang dikelilingi gunung-gunung tak aktif dan  memiliki suhu lebih dingin dari puncak puncak gunung yang pernah saya datangi membuat suhu disini cukup ekstrim. Bahkan menurut guide yang membawa kami  di dataran tinggi Dieng  pernah mencapai minus 5 derajat celcius. Terbukti ketika pulang dan suhu tubuh mulai berubah normal  ujung-ujung jari saya terkelupas seperti terkena frostbite. Frostbite adalah gejala rusaknya jaringan kulit yang membeku akibat suhu dingin. Biasanya, jaringan kulit yang rusak adalah yang terletak jauh dari hati, seperti jari tangan dan kaki.

Begitulah cerita kedamaian dan keindahan dataran tinggi Dieng. Saya menyebutnya negri “sriwedari” . Negri taman surga tempat bersemayam para dewa dewi. Sudah selayaknya memang  daya tarik wisata budaya menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat yang menimbulkan efek positip. Dan semoga kecerdasan masyarakat dataran tinggi Dieng dapat menjadi contoh bagaimana sebuah desa menjaga dan melestarikan alamnya, dan  sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.


 

 

Ajakan dari  seorang adik MAPALA untuk caving ke Buniayu saya terima dengan penuh semangat. Mengingat Sukabumi tidak terlalu jauh dari Jakarta  dan rindu juga rasanya untuk caving. Kata Buniayu diambil dari bahasa Sunda, yaitu "Buni" dan "Ayu" yang memiliki arti "kecantikan yang tersembunyi".  Setelah mampir di berbagai tempat makan dan berjibaku dengan kemacetan lama perjalanan terpaksa kami tempuh 6 - 7 jam.

 

Kamipun tiba malam hari di lokasi, dan menginap di pondokan yang dimiliki operator Buniayu. Malam hari yang bersahabat ini kami nikmati dengan bernyanyi bersama ditemani bintang, bulan, api unggun dan jagung bakar tentunya. Pagi harinya perjalanan menyusuri goa vertikal dimulai. Untuk penulusuran goa ini diharuskan memakai peralatan khusus di antaranya helm, baju lapangan, sarung tangan, sepatu boot antilicin, dan alat penerangan. Tetapi peralatan ini semua disediakan oleh operator goa Buniayu.

 

Sensasi ketegangan pun terasa ketika satu persatu kami mulai turun menggunakan tali temali  secara vertikal setinggi 18 meter melalui celah berukuran satu meter menuju lorong  di dalam goa yang ternyata cukup luas. Beberapa biota gua terlihat seperti kelelawar, udang, kepiting, jangkrik. Setelah turun kedalam goa akan dimulai dari zona kering. Belum ada rintangan apapun karena masih mudah dilalui. Ada beberapa stalaktit dan stalagmit  yang sudah dipamerkan di dalam goa ini.  Berbagai bentuk yang indah dari stalaktit dan stalagmit  sepanjang perjalan menyusuri goa Buniayu. Nanti saya lampirkan bentuk yang paling uniknya ya, hahaha....

Sang instruktur menjelaskan dari proses terjadinya fenomena alam didalam goa  Buniayu  dan sedikit cerita mengenai perjalanan goa Buniayu sehingga akhirnya  dikelola secara khusus oleh PERHUTANI.  Sebelum memasuki zona lumpur kami dibawa untuk merenung dalam kegelapan oleh instruktur. Merasakan kegelapan yang menyatu dengan  ketenangan. Dan  hanya mendengar suara air yang menetes didalam goa . Betapa kecilnya kita dihadapan alam ini.

 

Saatnya kita memasuki zona lumpur. Yah, butuh perjuangan untuk melewati lumpur dengan ketinggian 1 meter lebih. Cukup lelah rasanya melewati zona lumpur karena untuk menarik dan memindahkan kaki agar kita bisa tetap berjalan diatas lumpur sangat sulit sekali, harus dibantu dengan kekuatan tangan agar si kaki bisa ditarik dari lumpur. Selama perjalanan terdapat lorong-lorong sempit yang mengharuskan kita merayap, bermandi lumpur, menyusuri sungai dalam goa, serta jalanan yang menanjak disertai lumpur . Dan untuk menghilangkan lelah, saya mulai memikirkan untuk memulai perang lumpur. Kekacauan pun dimulai disini. Lelah berubah menjadi kegembiraan yang sempurna melihat wajah mereka yang celemotan. Kapan lagi kita merasakan  perawatan masker lumpur yang langsung dari kebaikan alam.

 

Setelah menikmati sensasi  selama 4 jam di perut bumi. Kami menemukan mulut keluar  dari goa. Ada kelegaan melihat seberkas cahaya. Tapi ternyata saya harus mendapat sedikit kenangan sebelum keluar dari goa ini. Saya menarik pohon yang berduri sebelum keluar dari goa. Sehingga jari telunjuk saya berdarah. Sebaiknya  kita membawa sendiri perlengkapan P3K. Mengingat keterbatasan operator disini. Lelah menyusuri gelapnya goa yang membutuhkan adrenalin,  kami dibawa menuju air terjun Bibijilan atau Curug Bibijilan. Di air terjun ini, selain membersihkan diri dari lumpur yang menempel saat menjelajah goa. Kami berendam merasakan segarnya kejernihan air dan rimbun pepohonan.

Akhirnya kami mendapat sertifikat sebagai seorang CAVER.

 

 

Perjalanan saya untuk dive trip ke Derawan hanya berselang 3 minggu dari trip bersama teman teman snorkling. Awalnya saya berpikir bisa seharian diving dan berpisah sesaat dengan team. Tapi ternyata di Derawan sulit mencari dive operator yang menerima saya yang seorang diri.  Maka setelah 3 minggu kemudian ada ajakan dive trip ke Pulau Derawan. Saya langsung mengiyakan ajakan teman. Pukul 02.30 WIB, disaat orang-orang masih tertidur, saya sudah harus bersiap-siap untuk menuju Bandara Soekarno Hatta. Karena jadwal penerbangan saya dari Jakarta menuju Tarakan dilakukan pukul 05.30 WIB. Penerbangan Jakarta-Tarakan memakan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan dengan satu kali transit di Balikpapan. Setelah transit, perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut dari Pelabuhan Tanjung Pasir Tarakan dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.

Setelah terpontang panting di lautan selama 4 jam akhirnya kami sampai di Derawan Cafe & Cottages. Rencana nya selama dive trip ini kami akan melakukan 9 kali dive diluar night dive yang menjadi pilihan masing masing peserta. Kami semua ada 24 orang. Dari berbagai profesi dan juga lintas generasi. Tapi menyatu dengan hobi yang satu. Sore hari kami hanya mulai saling bercerita antar peserta dan malam harinya miting rencana dive esok hari.

Hari pertama dive diawali dengan check dive di pulau Derawan dan dive pertama kami sudah disambut dengan arus yang sangat kuat. Sedikit terjadi kecelakaan karena fins saya lepas begitu saja. Sepertinya karena saya kurang pas memasanganya. Sehingga ketika arus sangat kuat fins saya terlepas.  Dan selanjutnya dive ke 2 dan ke 3 hari ini hanya di pulau Derawan.  Istimewanya hari ini saya tutup dengan melakukan night dive. Sangat damai dan tenang ternyata dive di malam hari. Menemukan sensasi yang berbeda.

Hari ke dua setelah sarapan kami sudah bersiap untuk menyelam di pulau Kakaban . Perjalanan ke Kakaban dari Derawan memakan waktu kurang lebih 45 menit.  Danau Kakaban, adalah air laut yang terperangkap di Pulau Kakaban, ditambah dengan air dari dalam tanah dan air hujan sejak 2 juta tahun lalu. Danau Kakaban merupakan danau prasejarah yaitu zaman peralihan Holosin. Luasnya sekitar 5 km², berdinding karang terjal setinggi 50 meter, yang mengakibatkan air laut yang terperangkap tidak lagi bisa keluar, menjadi danau. Secara administratif, danau Kakaban termasuk wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Karena perubahan dan evolusi yang cukup lama oleh air hujan dan air tanah, air danau ini kemudian menjadi lebih tawar dibandingkan laut yang ada di sekitarnya. Perubahan ini berdampak juga pada adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu. Ubur-ubur misalnya, karena terbatasnya makanan, akhirnya beradaptasi dengan melakukan simbiose mutualistis dengan algae. Algae adalah penghasil makanan dan harus memasak makanan dengan bantuan sinar matahari. sumber : www.wikipedia.org.

Selanjutnya ke pulau Sanglaki yang di kenal sebagai “ The world capital of Mantas “. Inilah spot terbaik untuk melihat puluhan ikan pari berenang dan melayang di dalam air. Saya beruntung melihat seekor pari berukuran besar berenang dekat saya. Sayangnya tak ada yang mengabadikannya. Pulau Sangalaki tidak terlalu besar. Jika mau menginap lebih private, di Sangalaki menyediakan beberapa cottage kayu yang sangat nyaman. Suasananya sepi dan tenang, listrik hanya menyala di malam hari.

Hari ketiga dive berlanjut ke Maratua. Disini surganya spot kalau  schooling ikan, dari ikan kecil sampai schooling Baracuda, Giant Trevally mau lihat hiu juga ada. Spot ini bernama Big Fish Country, jika menyelam disini siap-siap saja menghadapi arus yang keras dengan sensasi ditemani kumpulan ikan yang banyak.Tapi saya dan beberapa rekan memilih ke turtle traffic mengingat kemampuan saya yang belum sanggup untuk arus yang kuat. Mungkin next dive trip akan saya coba ke spot yang penuh sensasi ini. Selesai menyelam  pada hari ketiga, kami mampir sebentar ke pulau yang dekat sekali dengan Derawan, bernama pulau Gusung Sanggalau yang merupakan pulau kecil dengan hamparan pasir putih. Kami menikmati sunset di sini. Seperti biasa saya menyempatkan sesi pemotretan untuk yoga pose dengan sunset yang menawan.

Dan tibalah waktunya mengucapkan terima kasih pada perjalanan 4 hari di pulau ini. Pagi hari jam 10.00 pagi waktu setempat cuaca dermaga di Derawan Cottages pulau Derawan benar-benar cerah. Agak berat juga harus pulang karena masih ingin lebih lama menikmati taman laut di sekitar sini. Dan cuaca di hari terakhir ini yang sangat cerah dan amat sangat bagus buat photo. Kondisi laut amat sangat tenang, berbeda ketika perjalanan berangkat dari Tarakan ke Derawan yang memakan waktu 4 jam lebih, kali ini karena tidak ada gelombang sama sekali waktu yang di tempuh dari Derawan ke Tarakan hanya membutuhkan sekitar 2 jam setengah.

Di Tarakan, kami sempat berkunjung ke hutan mangrove tempat konservasi satwa bekantan, sejenis monyet tapi lebih besar, yang digunakan sebagai maskot Dunia Fantasi. Kami menemukan banyak bekantan  bergelayutan di atas pohon, cukup banyak jumlahnya. Tapi untungnya mereka tidak jahil seperti monyet. Kami hanya melihat mereka dari kejauhan. Menurut saya  konsep hutan kota seperti hutan mangrove di kota Tarakan perlu dikembangkan di tiap kota di Indonesia, bukan hanya menambah segar suasana udara di sekitar tetapi ikut melestarikan beberapa satwa khas daerah tersebut yang memang sudah langka.

Bahagia rasanya menambahkan list lokasi baru dalam dive log book tercinta. Next kapan kita kemana?

 

 

 

 

Faktanya, saya tinggal di negeri yang memiliki garis pantai terpanjang ke empat di dunia. Negeri yang terdiri dari lebih 17 ribu pulau dan luas negrinya terdiri dari 3/4 lautan. Negeri bahari, negeri yang terkenal kaya akan hasil lautnya. Negeri yang sejak dahulu terkenal akan pelayarannya, negeri yang terkenal akan keanekaragaman, tidak hanya ikan, biota laut, tetapi taman lautnya yang tersebar diseluruh negri. Ada kehidupan yang berbeda, yang penuh warna, penuh kejutan.

 

Maka setiap tahun saya mulai membuat rencana menyelam ke tempat tempat yang baru, yang belum pernah saya kunjungi. Ada keinginan untuk setiap tahun menambahkan destinasi yang baru di dive log book. Dunia bawah laut  sangat tenang dan damai. Selain bunyi nafas sendiri, tidak akan mendengar bunyi yang lain. Bawah air merupakan tempat yang tepat untuk relax dan untuk sementara melupakan hiruk pikuk dunia.

 

Dengan melihat dan menikmati keindahan terumbu karang, hiu, penyu laut, clown fish dan ribuan jenis ikan ,otomatis ikut berusaha melindungi makhluk-makhluk tersebut dari kepunahan. Saya mulai membenci polusi laut, dan bangga dengan kekayaan bawah laut Indonesia. Melihat penyu laut berusia puluhan dan ratusan tahun dengan jarak dekat. Bermain dengan mereka dan pengalaman ini tidak akan bisa dilukiskan dengan kata-kata. Menyelami bawah laut membuat kita dekat dengan alam, menghargai kehidupan, menghargai ciptaan Tuhan, dan membuat liburan kita menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.

 

 

 

 

Terletak di sebelah barat Pulau Bali, Pulau Menjangan menjadi salah satu bagian dari Taman Nasional Bali Barat. Pulau Menjangan dikenal sebagai salah satu spot diving dan snorkling terbaik di Pulau Bali. Karena dikawasan pulau tersebut tersimpan keindahan bawah laut yang luar biasa. Saya bersama buddy  yang meracuni saya discovery dive , siap  untuk menikmati bawah laut Taman Nasional Bali Barat .

 

Ini adalah kunjungan saya yang ketiga tetapi menjadi  pertama untuk  diving. Sebelumnya saya hanya snorkling disini. Dan karena   jiwa adventure saya yang cukup besar, saya penasaran bagaimana rasanya untuk turun lebih dalam lagi ke dunia bawah laut. Di Pulau Menjangan saya berjanji untuk mengambil kursus Open Water. Maka  setelah saya lulus dan memiliki lisensi menyelam atau Scuba Diving License. Tempat ini menjadi spot pertama yang saya kunjungi. Dan Wetsuit saya pertamakali saya basahi ditempat ini juga.

 

Beruntungnya tempat saya menginap di sebuah resort bernama Waka Shorea dan hanya satu-satunya resort yang terdapat di Taman Nasional Bali Barat, sebuah resort dengan konsep natural dan hidup berdampingan bersama hewan-hewan yang dilindungi di Taman Nasional ini. Banyak hewan hidup bebas di pulau ini. Seperti kera hitam, babi hutan, burung jalak bali dan rusa /menjangan. Ini adalah tempat yang sempurna untuk mendengar suara alam. Suara deburan ombak dan suara pepohonan ditengah hutan  menyempurnakan kedamaian dalam berlibur.

 

Karena menginap di Waka Shorea Resort  maka kami sudah ditunggu di dermaga  Banyuwedang  untuk  diseberangkan secara gratis oleh kapal yang dimiliki oleh resort tersebut.  Walaupun kapalnya sedikit menyeramkan. Sepertinya kapal sudah  tua dan kurang perawatan. Perjalanan menyebrang tidak sampai satu jam  Tiba siang hari di Waka Shorea, kami akan memulai rencana diving keesokan harinya. Sore hari kami nikmati  dengan memandang pantai di depan resort. Walaupun dari website ada kayaking  sebagai fasilitas resort  tetapi ternyata fasilitas itu sudah tidak ada. Hari itu sepertinya hanya kami wisatawan domestik. Menginap di resort ini memberi sensasi menyatu dengan alam. Saya yang  pecinta gunung turun ke laut merasa tempat ini sempurna. Sangat unik untuk sebuah resort di dalam Taman Nasional.


Pagi hari kami dijemput oleh Dive Operator yang sudah kami konfirmasi dari Jakarta. Saya sangat exited mengingat pengalaman snorkling saya yang super seru di tempat ini. Bersama buddy yang  sudah advance saya siap untuk memulai petualangan diving pertama saya. Kedatangan kami di bulan january ternyata kurang tepat, visibility kurang maksimal. Musim hujan membuat banyak sekali sampah. Akhirnya kami hanya melakukan 2 kali dive. Dive site pertama kami di coral garden dekat dengan patung Ganesha. Lalu dive kedua juga tidak terlalu jauh dari dive site sebelumnya.  Menikmati wall  bawah laut, sea fan, ikan warna warni  khas Pulau Menjangan. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

 

Waka Shorea sebenarnya tempat yang sempurna untuk sebuah resort didalam Taman Nasional. Jika anda pecinta keheningan dalam berlibur. Jauh dari hiruk pikuk dan kembali kepada alam. Siang hari tidak ada listrik, internet apalagi. Menurut saya adakalanya kita membutuhkan liburan yang tidak menyediakan koneksi internet agar kita dapat dengan cepat terkoneksi dengan alam. Bagi saya pengalaman menginap di resort dengan lokasi yang masih menjadi  bagian dari Taman Nasional memberi pengalaman sensasional. Dan 3 hal aktivitas  ini saja yang kami lakukan.  Eat, Sleep, Dive...and Repeat. Cara terbaik menikmati hidup.

 

Dan hati sayapun tertinggal di pulau ini.

 

The more you praise and celebrate your life, the more there is in life to celebrate.