Saya sudah lama berniat akan mengunjungi Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Berawal dari  pameran  Deep 'n Extreme 2017. Ditambah lagi saya ingin lebih mengenal dan mengetahui Maluku Utara secara luas dan  lebih detail . Tidak hanya lautnya, tapi juga daratan, sejarah, budaya dan semua yang ada didalamnya.

Pulau Halmahera adalah pulau terbesar di Propinsi Maluku Utara dengan luas sekitar 18.000 km2. Suatu analisis dengan menggunakan burung sebagai indikator (Endemic Bird Area) menunjukan bahwa Halmahera dan pulau-pulau kecil disekitarnya adalah suatu hotspot keanekaragaman hayati dunia. Kepulauan ini berada di urutan ke-sepuluh dari 218 hotspot keanekaragaman hayati di dunia. Bukti-bukti taksonomi mengindikasikan bahwa Halmahera penting bagi pelestarian keragaman hayati di Indonesia. Sebelum ditetapkan menjadi kawasan  konservasi, Taman Nasional Aketajawe Lolobata merupakan kawasan lindung yang memiliki peran penting bagi kelestarian ekosistem hutan tropis Halmahera. Pengusulan status kawasan lindung ini diinisiasi pada tahun 1981 dalam Rencana Konservasi Nasional di Indonesia, dimana dalam forum tersebut diusulkan empat kawasan lindung di Pulau Halmahera yaitu Aketajawe, Lolobata, Saketa dan Gunung Gamkonora. Tidak lama berselang, kawasan blok aketajawe dan lolobata kemudian diusulkan kembali menjadi kawasan Suaka Margasatwa Lolobata dengan luas 189.000 Ha dan Cagar Alam Aketajawe dengan Luas 120.000 Ha.  Kawasan Margasatwa Lolobata ini mencakup Pesisir pantai Teluk Dodaga serta sebagian besar kawasan hutan di semananjung Timur Laut Pulau Halmahera dengan ketinggian dari 0 – 1.417 mdpl.  Sedangkan kawasan Aketajawe mencakup pesisir barat bagian tengah Halmahera di wilayah pesisir Gita serta sebagian besar hutan di bagian tengah Pulau Halmahera dengan ketinggian antara 0 – 1.513 mdpl.

Beberapa hal menarik yang saya temukan di Aketajawe – Lolobata adalah suku asli Tobelo yaitu Togutil. Keberadaan suku tersebut terasing artinya belum tercampur dengan masyarakat lainnya. Suku ini merupakan penduduk asli yang belum bercampur dengan masyarakat pendatang yang biasanya tinggal di desa Tutur-tukur, Totodoku, Lili, dan daerah lainnya. Keunikan dari suku tersebut adalah masih menjunjung tinggi adat istiadat sehingga menjadi aset bagi pariwisata Maluku Utara khususnya Halmahera. Tidak hanya itu saja, kita juga bisa melihat rumah adat Suku Toguli tersebut yang masih sangat tradisional. Memulai perjalanan dari pintu gerbang Taman Nasional jam 3 dini hari. Masuk kedalam hutan yang masih sangat rapat, mengamati burung bidadari dari rumah pohon, menyebrangi beberapa sungai. Sungguh rindu akan hutan terbalas dengan pengalaman main ke Taman Nasional Aketajawe. Saya bersyukur memiliki guide yang super baik hati dan seru.

Beberapa poin yang dapat saya harapkan dari pengelola Taman Nasional Aketajawe-Lolobata :

1. Untuk naik ke rumah pohon sebaiknya menggunakan perlengkapan tali-temali yang aman.

2. Sebaiknya guide memiliki komunikasi dengan tamu, seperti informasi pos-pos yang akan dilewati.

3. Tetap menjaga jarak pandang dengan pengunjung dalam perjalanan ditengah hutan. Menghindari pengunjung hilang, karena kehilangan jalur perjalanan.

Semoga Taman Nasiona Aketajawe Lolobata tetap mampu mempertahankan kelestariannya. Menjaga hutan dan suku asli togutil yang berada didalamnya. Ayo main ke Taman Nasional dan nikmatilah persahabatan dengan alam.

 

 

 

 

Pulau Morotai merupakan salah satu daerah yang memiliki otonom setelah dimekarkan dari kabupaten induk Halmahera Utara pada tahun 2008. Dengan memiliki luas 695 mil persegi/1.800 km², Pulau Morotai dikenal memiliki potensi kepariwisataan. Baik wisata bahari maupun wisata sejarah. Berada di bibir Samudra Pasifik dan berbatasan langsung dengan Filipina membuat Morotai sangat strategis dalam PD II waktu itu. Morotai pernah menjadi bagian dari strategi lompat katak Panglima Perang Pasifik Pasukan Sekutu Jenderal Douglas MacArthur merebut kembali Filipina dari Jepang sekaligus memutus pergerakan Jepang di Pasifik barat daya. Pulau ini sungguh sangat bersejarah.

Lomba foto bawah laut yang diselenggarakan Kemenpar membawa saya menikmati pulau yang indah ini. Wonderful Morotai Islands Festival  berlangsung setiap tahun dengan berbagai acara dan ragam budaya selama enam bulan, dari Mei hingga Oktober 2017.  Acara Wonderful Morotai menampilkan berbagai event unggulan yang bertumpu pada daya tarik wisata alam (nature), wisata budaya (culture) dan wisata buatan manusia (man-made).

Saya menginap di D' Aloha Jababeka Resort. Lokasi yang strategis, spot terbaik menanti sunset. Sangat nyaman dan rekomen. Lima  hari disana menjadi tak terasa, pagi bersepeda sebelum sarapan pagi, dilanjutkan  jam 10  gear up untuk persiapan diving, pulang sore menanti sunset didepan kamar. Hidup yang nikmat dan santai. Di kedalaman 40 meter saya bisa menikmati pesawat Bristol Beaufort, pesawat pembom dan pembawa torpedo, bermesin dua, berawak empat orang, dan mampu terbang dengan kecepatan 400 kilometer per jam dengan menggendong semua senjata. Ada senapan mesin di moncong, untuk melindungi pesawat dari serangan fighter Jepang. Amunisi berserakan di lantai pasir sekitar pesawat. Laras senapan masih utuh, kendati berselimut karang, dan baling-baling yang copot. Semua begitu menarik untuk diabadikan dengan kamera, atau didokumentasikan ke dalam video. Dari Daruba, ibu kota Kabupaten Morotai, situs selam bangkai Perang Dunia II hanya berjarak 15 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat. Lokasi situs di lepas pantai Desa Wamama.

Sepanjang perjalanan  masih dapat dinikmati bekas landas pacu pesawat tempur, yang sekujurnya ditumbuhi belukar dan pepohonan. Dulu, orang masih melihat banyak bangkai kapal di pinggir landasan, kini tidak ada lagi. Penduduk mencincang bangkai kapal itu satu per satu.

Di Morotai, Jenderal McArthur menggempur Jepang di Filipina dan mengubah sejarah perang. Usai perang, McArthur memenuhi janji kembali ke Filipina, Morotai terlupa. Pulau di Halmahera Utara, Kepulauan Maluku ini kembali dilirik  ketika Teruo Nakamura, prajurit Jepang yang menolak menyerah ditangkap penduduk dan dipulangkan.

Saya sangat menikmati Pulau Morotai, dan semakin jatuh cinta dengan pulau yang dimiliki Maluku Utara. Hamparan pasirnya putih, bawah lautnya menawan, selain dive spot World War II saya sangat senang bertemu dengan hiu-hiu yang lincah di Mitita dive spot. Semoga penduduk dan nelayan setempat tetap menjaga kelestarian baik darat dan bawah lautnya.

Di Pulau Dodola sebagai icon Morotai saya juga melihat kesadaran yang sudah cukup tinggi untuk menjaga lingkungan. Terbukti dengan tempat sampah yang mudah ditemukan.

Kemenpar terus mempromosikan Pulau Morotai  baik di dalam negeri dan luar negeri. Wonderful Morotai yang diselenggarakan  setiap tahun, diharapkan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Sebagai museum Perang Dunia II, Morotai dipastikan tidak akan pernah lagi menjadi pulau yang terlupa. Tetapi semakin maju dan bersaing dan mampu sejajar dengan destinasi wisata Indonesia lainnya.

 

 

 

Pagi hari pukul 09.00 WITA saya tiba di Manado. Lalu melanjutkan perjalanan ke Bitung. Perjalanan memakan waktu tempuh sekitar 90 menit, lalu tiba di Kungkungan Bay Resort. Resort ini terletak sangat strategis, persis didepan selat Lembeh, dibelakang cottage saya ada perbukitan yang masih sangat alami. Setiap cottage memiliki pemandangan laut dengan keindahan Selat Lembeh dan pulau didepannya. Kungkungan Bay Resort sempurna untuk menyelam rasa princess mermaid. Mungkin ada baiknya  dicoba, diving like princess dalam setahun kalender penyelaman,  bolehlahhh....

Selat Lembeh di Sulawesi Utara menawarkan spot Muck dive yang sangat kaya. Menyelam dengan sedimen, tetapi penuh dengan makhluk kecil yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Frog fish dengan berbagai warna dan ukuran yang sangat besar. Makhluk yang saya imajinasikan seperti alien. Mereka melakukan penyamaran dengan baik untuk melindungi diri mereka dari predator. Dan melakukan kamuflase untuk menangkap mangsa. Ketika mangsa mendekati frog fish, mereka membuka mulutnya secara luas dalam gerakan tiba-tiba, lalu menarik mangsa itu kedalam mulutnya. Melihat semua moment itu didepan mata saya, membuat saya merasa sangat beruntung. Saya juga bertemu dengan naga laut Lembeh yang juga disebut pipehorses kerdil. Seperti namanya, ikan ini terkait dengan kuda laut dan pipefish. Naga laut Lembeh hanya dapat ditemukan di Selat Lembeh dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Mereka berukuran sekitar 15cm dengan tubuh string dan sangat tipis. Saya suka semua jenis sea horse terutama si pinki pigmi. Mereka sulit untuk ditemukan, karena melakukan penyamaran sangat baik, ukuran maksimum kurang dari 3 cm. Dan hanya dapat ditemukan di Asia Tenggara yang disebut coral triangle, jadi betapa beruntungnya kita menjadi bagsa yang memeiliki coral triangle terluas di dunia.

Selat Lembeh juga adalah surganya nudibranch. Hari kedua saya menyelam di  Nudi Falls Dive Spot. Bagi saya nudibranch adalah kupu-kupu dalam laut. Mereka begitu memiliki banyak warna dan bentuk. Dan yang paling penting mereka tidak bergerak cepat seperti ikan. Membuat mereka subjek yang sempurna untuk difoto. Nudibranch memiliki insang yang telanjang karena mereka bernapas melalui bulu-bulu branchial yang membentuk cluster di belakang tubuhnya. Mereka adalah hermaprodit, membawa organ reproduksi wanita dan laki-laki. Saya melihat begitu banyak makhluk alien yang berbeda-beda selama 3 hari. Dan di Selat Lembeh adalah tempat dimana untuk pertama kalinya saya bertemu dengan berbagai alien. Berharap suatu hari nanti akan kembali lagi menyelam bersama alien.

 

Terletak disebelah tenggara Bali, Nusa Penida adalah destinasi yang berada dalam wish  list dive trip saya  selama ini. Keinginan untuk bertemu mola-mola (sunfish), dan manta ray. Juga merasakan sensasi drift diving. Meskipun air cenderung lebih  dingin dibandingkan perairan di Indonesia lainnya, tapi Nusa Penida adalah spot yang menarik untuk bertemu  dengan pelagis besar. Dengan lebih dari 20 situs menyelam yang berbeda di sekitar pulau, semua menawarkan kesempatan untuk melihat kehidupan laut yang indah, termasuk mola-mola (sunfish) penyu, manta ray, ikan karang, dll.

Dive center adalah media kita untuk menikmati dunia bawah laut. Pilihlah dive center yang cukup berpengalaman. Saya menggunakan  Nusa Penida Water Sport Dive Center di Toyapakeh, atas rekomendasi senior diver di komunitas yang saya ikuti. Bagi saya penting  juga memilih buddy yang tepat untuk nge dirft, hahaha...Untuk spot yang terlalu banyak cerita berarus memang saya sangat memilih buddy. Minimal mengetahui karakter penyelaman saya. Kadang tiba-tiba terlalu bersemangat dibawah air ketika bertemu dengan spesies yang saya kagumi, kadang tiba-tiba jadi tak bersemangat ketika visib tidak sesuai ekspektasi.

Semakin sempurna rasanya dive trip ini disupport oleh  kapten kapal   yang handal dalam bidangnya, mampu menganalisa kondisi pasang surut gelombang.  Karena perairan di sekitar Nusa Penida dan Nusa Lembongan berhubungan langsung dengan Samudera Hindia. Jadi gelombang di sini sudah dipastikan tinggi. Beruntung saya mendapatkan kapten yang tak perlu diragukan lagi keahliannya dalam membaca arus dilaut Nusa Penida. Selain gelombang yang tinggi, saat menuju spot diving ini kita akan disuguhkan pemandangan tebing-tebing karang yang sangat indah mengelilingi Pulau Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Menikmati laguna-laguna kecil ataupun pantai-pantai pasir putih sepanjang perjalanan menggunakan boat   menuju dive spot.

Kondisi pasang surut juga mempengaruhi kemunculan manta. Aktivitas manta terbanyak saat air pasang, karena pada saat ini banyak plankton yang terangkat ke atas permukaan. Bisa di bilang saat ini adalah feeding time bagi mereka. Jam-jam kemunculannya pun kebanyakan sekitar jam 9 -11pagi, tergantung dengan kondisi pasang. Beruntung saya bertemu dengan beberapa manta yang sangat  besar, terbang megah mengelilingi saya.

Saya menyelam  di spot  SD dan Sental, selain di spot manta. Koral cantik nan asri, spons laut besar, ikan- ikan karang berlimpah, dirangkum dalam drift dive menjadikan diving tak terasa sudah lebih dari 40 menit. Drift dive di Sental juga benar- benar mengasyikkan.  Sensasi diving dengan kondisi ini sangat memacu adrenalin. Karena kita akan merasakan sensasi terbang melayang di dalam air dan tidak butuh banyak tenaga untuk kicking. Merasa seperti superman terbang, tetapi dibawah air. Jadi hemat energi dan kita bisa puas menyisir spot dive dengan sensasi yang super seru.

Yang menyenangkannya lagi  berada di Nusa Penida selama 3 hari 2  malam,  banyak kesempatan untuk land tour ke tempat tempat yang sangat menarik:

  • Kelingking / Cliff Manta Point
  • Pasih Uug / Broken Beach
  • Angels Billabong
  • Crystal Bay Beach

Suatu saat, saya pasti kembali  ke Nusa Penida. Disana anting pemberian Emak tercinta  hilang, mungkin saya harus mencarinya... Dan sepasang butis yang tertinggal, menunggu digunakan kembali untuk menyelam di crystal bay. Sempurna rasanya berlibur di Nusa Penida karena kekayaan  underwaternya  masih sangat sehat. Bukit-bukit  yang indah menjulang ditengah laut biru. Dan  dua hobi tercinta, diving dan hiking bisa terpuaskan.

And my mission accomplished, my first buddy back to the sea !!!  yeahhh...

 

 

 

 

Kota Ternate merupakan sebuah pulau kecil di Provinsi Maluku Utara yang belakangan ini mulai dilirik oleh para penggila underwater macro photography. Hal ini selain dikarenakan banyaknya jenis critters yang dapat ditemui, juga karena sebagian besar dive spot-nya berada tepat di pinggiran jalan raya Kota Ternate. Berbeda dengan beberapa destinasi lain yang juga terkenal dengan critters dan shore entry-nya seperti Tulamben Bali, dive spot di Ternate benar-benar berada di dalam kota dengan keramaian lalu-lintas yang padat. Selain itu, Kota Ternate juga memiliki jenis hiu yang baru belakangan ini dinyatakan sebagai spesies baru dan merupakan endemik bagi wilayah ini, yaitu Hemiscyllium halmahera (walking shark/epolet shark). Inilah keunikan menyelam di Ternate. Tak perlu pergi jauh-jauh, cukup di halaman depan, belakang, atau dekat mesjid seperti yang saya lakukan.

Pulau Ternate adalah salah satu pulau kecil dari 17.508 pulau Indonesia (Indo-Pasifik "east Indonesia"), yang terletak di sebelah barat pulau Halmahera di Provinsi Maluku Utara. Ternate juga masuk dalam gugusan gunung berapi aktif (ring of fire) yaitu Gunung Gamalama dengan ketinggian 1.715 meter dpl dimana kita melangkah dan mata memandang, Gamalama selalu nampak di mata.... gagah berdiri 'bak' berada di tengah kota Ternate.  Ternate merupakan keindahan pemandangan alam Indonesia yang digambarkan dari kombinasi yang sempurna. Dari pemandangan pegunungan, danau,  laut yang indah serta situs sejarah. Sungguh satu kesatuan yang membuat  tak ada kata cukup untuk mengunjunginya.

Ternate memiliki  tempat penyelaman yang sangat cantik dan membuat pengalaman menyelam menjadi tak terlupakan. Wreck dan Bus dive spot  dicapai hanya dengan shore entry. Apabila ingin menggunakan kapal, semua dapat dicapai tidak lebih dari satu jam. Floridas adalah salah satu dive spot favorit saya dari semua dive spot. Tempat ini terdiri dari gugusan pinnacle. Dengan tingginya sekitar 1-1,5 meter. Dan sensasi menyelam dengan arus saat melewati terowongan sempit yang dibentuk oleh dua puncak yang berdekatan. Waktu terbaik untuk menyelam disekitar Ternate menurut Ariawan Usman (instruktur Dodoku DIve Center)  pada sekitar  bulan  Mei, September, Oktober, November, dan Desember.

Ternate hanya perlu didukung dengan publikasi besar-besaran dari sisi digital seperti website dan aplikasi yang mendukung parawisata, orang-orang atau lingkungan yang ramah, dan fasilitas pariwisata terjangkau. Di kota ini  saya menemukan komunitas generasi muda yang penuh energi dan bersemangat memajukan kota mereka dengan menjaga laut serta lingkungannya.

Sudah saatnya pariwisata Indonesia bergerak lebih cepat. Dengan website dan virus media sosial, sehingga seluruh dunia tahu bahwa pariwisata diving di Indonesia tidak hanya tentang Bali, Komodo, Bunaken, atau Raja Ampat, tetapi Indonesia juga  memiliki Ternate yang sangat indah dan  berkelas, yang mampu disejajarkan dengan situs penyelaman terbaik dunia.

Kota ini cukup sempurna untuk pecinta gunung dan lautan, bahkan tersirat dibenak untuk menghabiskan hari tua di kota nan bersih dan rapih ini. Jalan-jalannya mulus tidak mengenal kata macet, rumah-rumah tersusun rapi, tak satupun kelihatan kumuh. Tunggu apalagi... Ayo Main Ke Ternate !!!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai diving di Ternate silahkan mengunjungi:

 

www.dodokudivecenter.id